Dugaan Selisih Harga Pasar Nampan , ICW Minta Pemerintah Transparan  

0
12
Spread the love

Jakarta, Nusantaranetwork.com-Indonesia International Gift and Warehouse Expo yang digelar di JI Expo  Jakarta dari 6-8 Agustus 2025 menjadi tempat bagi perusahaan-perusahaan China untuk memperkenalkan produk unggulannya, salah satunya food tray stainless steel untuk Program MBG.

Harga food tray yang dipamerkan berkisar antara 20.000 hingga 30.000 Rupiah (RMB 8,5 sampai RMB 13.15) per unit, tergantung pada ukuran dan spesifikasi produk.

Beberapa perusahaan terkemuka yang hadir di acara ini menawarkan harga yang sangat kompetitif untuk food tray mereka. Rebecca dari Guangdong Shunfa Hardware Products Co. Ltd. menyatakan, “Untuk food tray , harganya USD 1.8 atau sekitar 28.000 Rupiah, ” Perusahaan ini juga mengungkapkan bahwa mereka memiliki kapasitas produksi yang sangat tinggi, mampu memproduksi hingga 1.000.000 unit per bulan. “Kami sangat tertarik untuk menjalin hubungan dengan pasar Indonesia, terutama terkait program pemberian makanan untuk siswa sekolah,” tambah Rebecca, menanggapi permintaan pasar Indonesia yang terus meningkat.

Tidak kalah menarik, Yvonnena dari Guangdong Golden Key Hardware Industry Co. Ltd. menawarkan harga USD 1.7 (sekitar 26.000 Rupiah) per unit untuk food tray mereka. “Kami mampu memproduksi hingga 50.000 unit per hari dan kami sudah mengirimkan lima kontainer per bulan untuk setiap klien Indonesia,” ujar Yvonnena. Dia juga mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut telah menjalin hubungan dengan beberapa pelanggan di Indonesia dan berharap dapat lebih banyak memasok produk untuk program pemerintah Indonesia yang membutuhkan food tray bagi siswa sekolah.

Dari sisi perusahaan lain, Kristian, perwakilan dari Linwu Industrial Zone, Guangdong, mengatakan, “Harga food tray yang kami tawarkan mulai dari 20.000 hingga 25.000 Rupiah per unit, tergantung pada tipe dan ukuran. Kami dapat memproduksi hingga 20.000 unit per hari dan sudah menjual produk kami ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya.”

Selain itu, Chen Bingling dari Zouzou Shengsheng Hardware Products mengungkapkan bahwa harga food tray mereka bervariasi antara 21.668 Rupiah hingga 27.370 Rupiah per unit, dengan kapasitas produksi mencapai 50.000 unit setiap dua hari. “Kami telah mengirimkan produk ke Indonesia, dan waktu pengiriman rata-rata sekitar 13 hari,” ujar Chen.

Dengan harga yang bervariasi dan kapasitas produksi yang besar, perusahaan-perusahaan China yang hadir di pameran ini optimis dapat memenuhi permintaan pasar Indonesia. Terlebih, dengan adanya program pemerintah yang mendukung distribusi makanan kepada siswa sekolah, kebutuhan akan food tray semakin tinggi, memberikan peluang bagi pemasok untuk memperluas jangkauan pasarnya di Indonesia.

Perbedaan Harga

Sumber di kalangan industri mengatakan  pameran yang digelar di JIEXpo, terungkap bahwa harga food tray yang dijual di pasaran jauh lebih murah dibandingkan dengan yang dibeli oleh pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN). Informasi yang diterima sumber tersebut, pengadaan food tray yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) kini menjadi pusat perhatian setelah terungkapnya ketidakcocokan harga antara harga pasar dan harga pengadaan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, food tray Program BGN dipatok dengan harga yang sangat tinggi, mencapai Rp 80.000 per unit, sementara harga di importir sekitar Rp23.000 per unit. Selisih yang mencolok ini menunjukkan bahwa harga yang dibayarkan hampir empat kali lipat lebih mahal dari harga import. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan efisiensi dalam pengadaan barang oleh pemerintah. Importir berpotensial meraup keuntungan 2-3 Triliun Rupiah.

Pemerintah, yang seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga penggunaan anggaran negara yang efisien, kini menghadapi kritik tajam dari berbagai pihak. Salah satu alasan yang diajukan untuk membuka impor food tray adalah untuk memenuhi kebutuhan barang dalam jumlah besar guna mendukung program makan bergizi gratis yang dijalankan pemerintah. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat, terutama yang berada di daerah terpencil dan kurang mampu, dapat mengakses makanan bergizi secara gratis.

Namun, kebijakan ini juga membuka ruang memperkaya pengusaha impotir dengan meraup keuntungan lebih besar dengan harga jual yang tinggi, bahkan ketika barang tersebut dapat diperoleh dengan harga lebih murah di China. Sumber kami menilai kebijakan ini menciptakan celah untuk penyalahgunaan anggaran negara, terutama karena harga yang akan dibayarkan pemerintah walaupun secara tidak langsung dengan melalui system sewa ke mitra.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik kurangnya transparansi dalam pengadaan food tray untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Wana Alamsyah, peneliti ICW, menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti hargNamun, kebijakan ini juga membuka ruang bagi pengusaha dan pemasok untuk meraup keuntungan lebih besar dengan harga jual yang tinggi, bahkan ketika barang tersebut dapat diperoleh dengan harga lebih murah di pasar. Sumber kami menilai kebijakan ini menciptakan celah untuk penyalahgunaan anggaran negara.

Alamsyah menegaskan, untuk mencegah potensi korupsi atau manipulasi harga, informasi terkait pengadaan MBG, termasuk harga pengadaan unit food tray, seharusnya disampaikan secara terbuka kepada publik. “Idealnya, semua informasi mengenai pengadaan barang untuk program MBG harus diumumkan dan dimasukkan dalam mekanisme pengadaan publik, agar masyarakat dapat mengawasi dengan cermat,” ungkapnya.

Hingga saat ini, ICW belum mendapatkan data detail mengenai pengadaan food tray yang digunakan dalam program MBG, namun Alamsyah menegaskan bahwa ICW terus memantau proses ini. “Kami belum memiliki data pasti mengenai harga pengadaan masing-masing unit food tray, tetapi kami akan terus memantau dan menyampaikan hasil pengawasan kami di website ICW,” katanya.

ICW berharap agar pemerintah, khususnya BGN, segera memperjelas informasi terkait pengadaan barang dalam program MBG untuk menghindari adanya potensi penyalahgunaan anggaran.

Badan Gizi Nasional (BGN) belum melakukan pembelian food tray atau peralatan terkait untuk program gizi mereka, menurut penjelasan dari Kepala BGN, Dadan Hindayana.

Ia mengklarifikasi bahwa food tray yang saat ini digunakan tidak dibeli oleh BGN, melainkan oleh para mitranya. Hal ini menanggapi laporan-laporan yang menyebutkan bahwa BGN membeli food tray dengan harga mencapai Rp 80.000 per unit.

“BGN belum mengeluarkan satu rupiah pun untuk pembelian food tray atau peralatan lainnya,” kata Hindayana. “Tray yang saat ini digunakan dibeli oleh mitra kami,” tambahnya, membantah klaim yang beredar terkait harga dan proses pengadaan.

Pernyataan ini bertujuan untuk mengklarifikasi dan memastikan transparansi dalam operasi BGN.

Leave a reply