
DRMA Tak Terbendung: Dari Laba Solid 2025 ke Ledakan Pertumbuhan di Era Kendaraan Listrik
NUSANTARANETWORK.COM-Di tengah dinamika pasar otomotif yang semakin kompetitif, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) terus menunjukkan ketangguhannya. Sebagai emiten komponen otomotif yang terafiliasi dengan konglomerat Theodore Permadi Rachmat (TP Rachmat) melalui Triputra Group, DRMA berhasil mencetak laba solid sepanjang 2025. Melalui strategi cerdas yang melibatkan diversifikasi produk, akuisisi strategis, dan fokus pada kendaraan listrik (EV), perusahaan ini menyiapkan amunisi kuat untuk menjaga momentum keuntungan atau “cuan” di tahun 2026.
Theodore Permadi Rachmat, atau yang akrab disapa TP Rachmat, adalah seorang konglomerat Indonesia yang mendirikan Triputra Group pada 1998. Grup ini memiliki minat bisnis luas, termasuk agribisnis, manufaktur, dan otomotif. DRMA sendiri merupakan anak usaha Triputra yang fokus pada produksi komponen otomotif, seperti suku cadang sepeda motor dan mobil. Di bawah kepemimpinan TP Rachmat, DRMA tidak hanya bertahan di tengah lesunya industri otomotif akibat faktor ekonomi global, tetapi juga berhasil ekspansi ke segmen baru untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan.
Kinerja Solid DRMA di 2025: Fondasi Kuat untuk Masa Depan
Sepanjang 2025, DRMA mencatatkan performa keuangan yang menggembirakan meski industri otomotif menghadapi tantangan seperti kenaikan PPN menjadi 12% dan penurunan penjualan kendaraan. Hingga kuartal III 2025, perusahaan meraup pendapatan sebesar Rp4,39 triliun, naik 9,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YOY). Laba bersih juga tumbuh 1,89% YOY menjadi Rp419,87 miliar.
Faktor kunci di balik kesuksesan ini adalah efisiensi operasional dan penjualan komponen sepeda motor yang semakin moncer. DRMA optimistis mencapai target pendapatan full year 2025 sebesar Rp6 triliun, dengan margin laba bersih di atas 10% atau setara lebih dari Rp600 miliar. Selain itu, perusahaan telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,8 MWp, dengan rencana tambahan 1 MWp hingga 2026, sebagai bagian dari komitmen ESG (Environmental, Social, Governance).
Strategi “Jurus” DRMA untuk 2026: Diversifikasi, Akuisisi, dan Fokus EV
Untuk menjaga “kepul cuan” di 2026, DRMA menerapkan tiga jurus utama yang dirancang oleh manajemen di bawah arahan TP Rachmat. Pertama, diversifikasi produk. Perusahaan terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik sebagai langkah strategis jangka panjang. Ini termasuk peluncuran Lithium 12V Aki dan Battery Energy Storage System (BESS) melalui Dharma Connect, serta otomatisasi proses manufaktur untuk meningkatkan efisiensi. Diversifikasi ini membantu DRMA mengurangi ketergantungan pada pasar otomotif konvensional yang sedang lesu.
Kedua, akuisisi strategis. DRMA baru saja mengumumkan akuisisi 82% saham PT Mah Sing Indonesia, perusahaan manufaktur plastik asal Malaysia, dengan nilai Rp41 miliar. Akuisisi ini diharapkan selesai akhir 2025 atau awal 2026, dan akan memperluas portofolio ke komponen roda empat seperti bumper, dashboard, dan door trim. Langkah ini sejalan dengan rencana ekspansi bisnis dan diharapkan memberikan kontribusi positif mulai 2026. Perusahaan juga terbuka untuk akuisisi lain yang bisa memperkuat kompetensi dan portofolio.
Ketiga, fokus pada EV. Meski kontribusi EV masih kecil (sekitar 10% dari pasar roda empat), DRMA telah mengamankan kontrak suplai battery packaging dan komponen lain untuk pemain baru di industri EV. Volume signifikan diharapkan mulai 2026, didukung oleh prinsip ekonomi sirkular seperti penggunaan bahan daur ulang. Ini menjadi amunisi utama untuk menangkap peluang dari masuknya produsen otomotif baru di Indonesia.
Dengan capex Rp300-400 miliar yang sebagian besar dibiayai dari kas internal, DRMA memproyeksikan pendapatan Rp6,5 triliun di 2026, naik dari target 2025, sambil mempertahankan margin laba di atas 10%.
Meski prospek cerah, DRMA tetap waspada terhadap risiko seperti fluktuasi harga bahan baku dan persaingan di sektor EV. Namun, dengan fondasi kuat dari kinerja 2025 dan strategi yang adaptif, perusahaan ini siap menjaga kepul cuan di 2026. Bagi investor, DRMA menawarkan peluang menarik di tengah transisi industri otomotif menuju era hijau.
Dalam kata-kata TP Rachmat, visi jangka panjang Triputra Group adalah membangun bisnis berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi stakeholders. DRMA tampaknya sedang berada di jalur yang tepat untuk mewujudkannya.
