Jakarta– Prof. Dr. Juwono Sudarsono, salah satu tokoh intelektual dan negarawan Indonesia yang pernah menjabat Menteri Pertahanan pada dua era kepresidenan serta Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Almarhum wafat dalam usia 84 tahun setelah lama menderita sakit.
Kepergian Prof. Juwono meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademik, militer, dan diplomasi Indonesia. Sebagai anak mantan Menteri Dalam Negeri dan Sosial era Kabinet Sjahrir, Dr. Sudarsono, ia mewarisi semangat pengabdian negara yang kuat sejak muda.
Lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 5 Maret 1942, Juwono menempuh pendidikan tinggi yang gemilang. Ia meraih gelar sarjana dan magister di Universitas Indonesia, melanjutkan studi di Institute of Social Studies Den Haag (Belanda), University of California Berkeley (AS), serta meraih gelar Doktor (Ph.D.) di London School of Economics and Political Science (Inggris). Karier akademiknya mencapai puncak sebagai Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UI (1988–2020), Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI (1985–1994), serta Guru Besar Tamu Columbia University, New York (1986–1987). Ia juga pernah menjabat Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Di panggung pemerintahan, Juwono Sudarsono dikenal sebagai figur reformis yang menjembatani sipil dan militer. Ia menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto (1998), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden B.J. Habibie (1998–1999), serta Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris era Presiden Megawati Sukarnoputri (2003–2004). Puncak pengabdiannya adalah sebagai Menteri Pertahanan pertama dari kalangan sipil setelah lebih dari 50 tahun di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur, 1999–2000) dan kembali dijabatnya pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2009).
Selama menjabat Menhan, Juwono dikenal sebagai arsitek reformasi pertahanan yang mendorong penguatan kontrol sipil atas militer, transparansi pengadaan alutsista, serta pembentukan fondasi Universitas Pertahanan. Pemikiran strategisnya turut membentuk kebijakan pertahanan nasional di masa transisi demokrasi.
Jenazah almarhum disemayamkan terlebih dahulu di Ruang Hening Kementerian Pertahanan pada Minggu pagi (29 Maret 2026) sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, siang harinya. Prosesi pemakaman dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan diwarnai isak tangis keluarga serta rekan-rekan seperjuangan.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan duka cita mendalam.
“Almarhum merupakan sosok yang berperan penting dalam meletakkan fondasi kebijakan pertahanan nasional. Pemikiran strategis serta kepemimpinannya memberikan kontribusi nyata dalam penguatan sistem pertahanan negara.”
Sementara itu, seorang akademisi UI yang pernah belajar di bawah bimbingan Prof. Juwono menyatakan “Beliau bukan hanya guru besar, tapi juga teladan integritas. Warisan pemikiran dan dedikasinya bagi reformasi sipil-militer akan terus hidup di setiap generasi mahasiswa dan insan pertahanan Indonesia.”
Karangan bunga ucapan duka cita pun berjejer di rumah duka, antara lain dari Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan berbagai tokoh nasional, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi seorang negarawan yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Prof. Juwono Sudarsono meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Semoga almarhum husnul khatimah dan segala amal jasanya diterima di sisi Allah SWT. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya.





