Jakarta– Penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel telah mengguncang pasar energi dunia. Jalur vital yang mengangkut hingga 20,1 juta barel minyak mentah per hari ini terancam memicu krisis pasokan global.
Namun, di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional masih aman. Pertanyaan besar: amankah stok BBM Indonesia menghadapi ancaman ini pasca-libur Lebaran?
Penutupan Selat Hormuz yang dimulai sejak awal Maret 2026 berdampak langsung pada 20-25% impor minyak mentah Indonesia dari Timur Tengah.
Meski demikian, pemerintah telah mengantisipasi dengan mengalihkan sumber pasokan ke negara lain seperti Amerika Serikat, Nigeria, Angola, dan Brasil. Impor BBM jadi (bensin) pun tidak terdampak karena mayoritas berasal dari Singapura dan Malaysia.
Stok BBM Indonesia Aman, Bahlil: “Jangan Panic Buying!”
Menteri Bahlil Lahadalia secara tegas menjamin ketahanan stok BBM nasional. Dalam klarifikasinya pada 6 Maret 2026 di kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, ia menyatakan bawah kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. “Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu. Nah, standar minimal ketersediaan kita itu untuk standar nasional minimal harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman. Jadi enggak perlu ada panic buying, enggak perlu. Supply lancar.”
Bahlil menambahkan bahwa stok BBM, crude, dan elpiji saat ini rata-rata berada di atas standar minimum nasional 21 hari. Bahkan untuk menghadapi Lebaran 2026, PT Pertamina (Persero) melaporkan cadangan nasional tembus 27-28 hari, jauh di atas ambang batas regulasi 21 hari.
“Khusus untuk menyangkut persiapan hari raya Idulfitri dan bulan puasa, alhamdulillah saya menyampaikan stok BBM kita, crude, elpiji, itu semua rata-rata di atas standar rata-rata minimum nasional 21 hari,” tegas Bahlil dalam pernyataan sebelumnya pada 3 Maret 2026.
Mengapa Angka “20 Hari” Sering Disebut?
Angka 20-23 hari yang sempat membuat khawatir masyarakat bukan berarti BBM akan habis dalam waktu dekat. Menurut Bahlil, itu semata-mata mencerminkan kapasitas maksimal tangki penyimpanan (storage) Pertamina yang memang hanya 21-25 hari sejak dulu. Produksi dan pasokan terus mengalir setiap hari, sehingga stok tidak pernah benar-benar “habis”.
Pemerintah juga tengah mempercepat pembangunan fasilitas storage baru yang mampu menampung cadangan hingga 3 bulan, sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Harga BBM Tetap Stabil, Tidak Ada Kenaikan
Hingga saat ini, pemerintah menjamin tidak ada kenaikan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi. Pasokan dari dalam negeri (khususnya solar) bahkan diproduksi full domestik, sehingga ketergantungan impor sangat minim. Masyarakat diminta tetap tenang dan menghindari panic buying yang justru bisa memicu kelangkaan sementara di SPBU.
Cadangan BBM Indonesia Aman!
Di tengah ancaman krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz, Indonesia berada dalam posisi relatif aman berkat diversifikasi impor dan ketahanan stok yang sudah di atas standar. Menteri Bahlil menegaskan, “Insya Allah, sekalipun terjadi peperangan di Timur Tengah, kondisi kita aman. Sekali lagi saya katakan aman.”
Bagi masyarakat yang akan mudik atau beraktivitas pasca-Lebaran, stok BBM dipastikan mencukupi. Pantau terus update resmi dari Kementerian ESDM dan Pertamina. Jangan terprovokasi isu-isu yang tidak bertanggung jawab.





