Kediri-Senja turun perlahan di kaki bukit, dan warna langit berubah menjadi ungu keabu-abuan. Di waktu seperti ini, kawasan Goa Selomangleng, Kediri, tidak terlihat seperti objek wisata pada umumnya lagi, melainkan menjadi ruang sunyi dari dimensi yang berbeda.

Gema langkah kaki terdengar lebih nyaring, dedaunan yang bergemerisik terkena angin seperti bisikan. Sedikit yang mengetahui bahwa di dalam goa sederhana itu, ada cerita tentang seorang putri yang memilih menghilang dari gemerlap kekuasaan.

Namanya adalah Dewi Kilisuci, seorang putri dari Kerajaan Kediri yang diperkirakan hidup pada abad ke-11. Ia merupakan seorang bangsawan yang hidup dan besar di tengah kemegahan istana, dinamika kekuasaan, dan tata krama kerajaan yang kompleks. Hingga suatu masa ketika usianya dianggap cukup dan posisinya dinilai strategis, ia dilamar oleh seorang raja sakti yang dalam legenda dikenal sebagai Lembu Suro, figur kuat yang ingin mempersuntingnya bukan karena cinta, tetapi sebagai simbol aliansi dan legitimasi.

Bagi kebanyakan putri kerajaan pada saat itu, lamaran ini adalah takdir yang tak terhindarkan. Pernikahan berarti memperluas pengaruh, memperkuat dinasti, dan memastikan stabilitas politik. Tapi Kilisuci menganggapnya berbeda. Ia memilih untuk menyingkir dari gemerlap kekuasaan dan menyingkir dari istana.

Keputusan itu bukan semata tindakan spiritual seorang putri yang ingin mendekatkan diri pada Ilahi, tetapi juga bentuk penolakan yang tegas terhadap dunia yang menyiapkan jalan hidupnya tanpa membiarkannya memiliki kebebasan untuk memilih. Di dalam goa itu, bentuk Kilisuci memiliki sebuah ruang di mana ia sepenuhnya berdaulat atas dirinya sendiri.

Sumber Foto : Dok. Istimewa

Relief yang Berbicara Pelan

Goa Selomangleng yang berlokasi di lereng gunung Klotok itu bukan bangunan megah. Hanya susunan batu-batu kuno dengan struktur batu andesitnya yang sederhana. Tidak ada gerbang menjulang atau ornamen berlapis emas. Di dinding batu kuno terpahat relief bergaya Hindu-Buddha yang menjadi ciri khas dari goa ini.

Nama Goa Selomangleng sendiri berasal dari istilah jawa, yaitu ‘selo’ yang berarti batu dan ‘mangleng’ yang berarti menjorok atau miring. Beberapa pahatan menampilkan figur-figur dewa dan simbol spiritual. Namun tidak semua detailnya utuh.

Di malam hari, ketika cahaya mulai redup, kontur relief terlihat lebih dramatis. Bayangan dari senter atau lampu kecil menciptakan ilusi gerak. Garis pahatan tampak hidup, seolah mengingatkan bahwa tempat ini pernah menjadi ruang laku, bukan sekadar ruang singgah.

Bagi warga sekitar, waktu-waktu tertentu dipercaya memiliki energi berbeda. Ada yang memilih datang pagi buta. Ada pula yang sengaja menunggu magrib berlalu sebelum masuk. Bukan untuk mencari sensasi mistis, tetapi untuk merasakan suasana yang lebih khusyuk.

Lereng Gunung Klotok dan Energi Alam

Sebagian cerita rakyat menyebutkan bahwa wilayah lereng Gunung Klotok sejak dahulu dikenal sebagai tempat pertapaan para resi. Jauh sebelum menjadi destinasi wisata, kawasan ini dipercaya sebagai ruang laku—tempat orang-orang mencari ketenangan, kekuatan batin, atau jawaban atas pergulatan hidup.

Konon, inilah alasan Kilisuci memilih tempat ini. Bukan semata karena terpencil, tetapi karena diyakini memiliki “energi alam” yang kuat. Perpaduan batu, pepohonan rindang, dan kontur bukit menciptakan ruang yang terasa terpisah dari dunia luar.

Di malam hari, ketika lampu kota terlihat samar di kejauhan, lereng Gunung Klotok seperti menjadi batas antara dua dunia: dunia kekuasaan yang riuh dan dunia batin yang hening. Sejak digunakan Dewi Kilisuci untuk bertapa, goa ini semakin dikenal sebagai lokasi sakral sekaligus pusat spiritual masyarakat, bahkan hingga sekarang.

Hingga hari ini, keyakinan itu belum sepenuhnya pudar. Bagi sebagian masyarakat, Goa Selomangleng bukan sekadar situs sejarah, melainkan tempat laku dan tirakat. Ada yang datang pada malam satu Suro, sementara yang lain memilih pada Jumat Kliwon untuk berdiam lebih lama di dalam ruang batu.

Konon, orang yang masuk dengan niat bersih akan keluar dengan hati yang lebih ringan. Sebaliknya, bersikap sembarangan di dalam goa dipercaya sebagai bentuk ketidakhormatan pada ruang yang dianggap sakral. Tak ada papan peringatan resmi tentang hal itu, tetapi etika tak tertulis tersebut masih dijaga oleh warga sekitar.

Antara Wisata dan Laku Spiritual

“Lokasinya kayak dekat dari perkotaan Kediri, tapi atmosfernya sudah kerasa beda, lebih sejuk dan tenang,” ucap Sastro, pengunjung dari Goa Selomangleng.

Saat ini, Goa Selomangleng berada dalam dua fungsi yang berjalan bersamaan. Secara administratif dan pariwisata, benar bahwa ia adalah destinasi sejarah yang mudah diakses dari pusat Kota Kediri, dilengkapi area taman, jalur pejalan kaki, dan fasilitas publik. Akses yang relatif singkat membuatnya menjadi pilihan kunjungan keluarga, pelajar, hingga komunitas dan penggiat sejarah.

Namun di saat yang sama, identitasnya sebagai ruang pertapaan tidak sepenuhnya hilang. Dalam tradisi lokal, goa ini masih dipahami sebagai tempat laku—ruang untuk berdiam dan melakukan refleksi batin. Karena itu, praktik yang terjadi di dalamnya pun beragam. Pada siang hari, pengunjung mengambil foto dan mendengarkan penjelasan sejarah. Pada waktu tertentu, ada pula yang datang untuk duduk tenang, berdoa, atau melakukan tirakat secara personal.

Secara akademik, situs ini tidak hanya diposisikan dalam kerangka legenda atau narasi mistis. Ia memiliki nilai historis dan arkeologis yang dapat diidentifikasi melalui relief pada dinding batu. Relief-relief tersebut memperlihatkan representasi kisah pewayangan, adegan kehidupan masyarakat, serta simbol-simbol religius yang merefleksikan corak budaya Jawa klasik.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyambut baik segala bentuk positif yang membangun pariwisata-pariwisata di Kabupaten Kediri. “Saya selaku kepala daerah sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang sifatnya untuk introspeksi diri, untuk melihat apa yang sudah kita lakukan dan akan kita lakukan,” ucapnya.

Perubahan zaman memang menggeser konfigurasi fungsi ruang. Lokasi yang dahulu cenderung eksklusif untuk praktik spiritual kini menjadi ruang publik yang terbuka dan terkelola. Namun pergeseran tersebut tidak menghapus makna awalnya. Yang terjadi justru adalah pelapisan fungsi: nilai historis, arkeologis, dan spiritual hadir secara simultan dalam satu ruang yang sama. Di titik inilah Goa Selomangleng tidak sekadar menjadi objek wisata, melainkan juga situs yang menyimpan kontinuitas praktik dan memori kultural.

Akses Menuju Goa Selomangleng

 

Goa Selomangleng berada di kawasan lereng bawah Gunung Klotok, sekitar 3–5 kilometer dari pusat Kediri. Dari pusat kota (Alun-Alun Kediri), perjalanan darat dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10–15 menit menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi daring. Akses jalan cukup lebar dan beraspal baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Bagi pengunjung dari luar kota, Kediri dapat dicapai melalui jalur darat atau kereta api menuju Stasiun Kediri. Jika berangkat dari luar Jawa Timur atau luar pulau Jawa, Alternatif lain adalah melalui Dhoho International Airport yang melayani penerbangan domestik..

Setibanya di area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki menyusuri jalur taman yang telah ditata menuju mulut goa. Jalur ini relatif landai dan dilengkapi ruang terbuka hijau, sehingga aksesnya cukup ramah bagi berbagai kelompok usia. Pada musim hujan, permukaan tanah di beberapa titik bisa menjadi lebih lembap, sehingga alas kaki yang nyaman dan tidak licin disarankan.

Kemudahan akses inilah yang menjadikan Goa Selomangleng tidak hanya penting secara historis, tetapi juga inklusif sebagai ruang kunjungan publik. Hari ini, siapa pun bisa datang ke Goa Selomangleng dengan alasan yang berbeda. Ada yang ingin melihat nilai sejarah, menikmati lanskap, atau mungkin membutuhkan ruang untuk berpikir lebih jernih. Situs ini tidak mengerucutkan pada satu makna tunggal. Melainkan memberikan ruang bagi pengunjung menentukan pengalaman yang ingin mereka bawa pulang.

Warisan Dewi Kilisuci—baik sebagai figur historis maupun tokoh legenda—mungkin tidak terletak pada dramatisasi kisahnya, melainkan pada simbol pilihan yang ia representasikan: keberanian untuk mengambil jarak dari pusat kekuasaan dan memilih ruang hening.