Jakarta – Kisah lama era Orde Baru kembali menjadi sorotan di media nasional pada Februari 2026, setelah CNBC Indonesia menerbitkan ulang cerita menarik tentang Siti Hartinah (Ibu Tien), istri Presiden RI ke-2 Soeharto. Dalam artikel berjudul “Ibu Tien Didatangi Sosok Ngaku Anak Soeharto, Malam-Malam Malah Kabur” (diterbitkan 14 Januari 2026, tapi ramai dibahas belakangan), diceritakan bagaimana Ibu Tien menghadapi situasi mencurigakan di tengah ketegangan pasca-G30S/PKI tahun 1965.
Peristiwa ini terjadi saat Soeharto menjabat sebagai Panglima Kostrad, dan keamanan keluarga masih rapuh akibat situasi politik yang belum stabil. Suatu malam, Ibu Tien mendapat informasi mendadak: ada seorang perempuan muda yang mengaku sebagai anak Soeharto dan sedang menunggu di rumah Ketua MPR Chaerul Saleh. Saat itu, pasangan Soeharto-Ibu Tien sudah memiliki tujuh anak biologis, sehingga klaim tersebut langsung menimbulkan kecurigaan.
Dengan rasa was-was, Ibu Tien memutuskan mendatangi lokasi tersebut secara langsung. Ia menemui perempuan tersebut yang tampak lelah dan mengaku mencari ayahnya bernama Soeharto. Namun, sikap dan cerita perempuan itu tidak meyakinkan. Ibu Tien merasa ada yang janggal—terutama karena konteks politik saat itu penuh intrik dan ancaman pembunuhan terhadap tokoh militer.
Menurut rekonstruksi cerita dari sumber sejarah dan kesaksian keluarga, Ibu Tien memutuskan untuk mengamankan situasi. Perempuan tersebut dibawa ke kediaman keluarga Soeharto untuk diinterogasi lebih lanjut. Demi alasan keamanan, kamar tempat perempuan itu ditampung dikunci dari luar. Malam itu juga, setelah situasi dievaluasi, Ibu Tien melaporkan kejadian tersebut langsung kepada Soeharto yang berada di Markas Kostrad.
Yang mengejutkan, keesokan harinya atau malam berikutnya, perempuan yang mengaku anak Soeharto itu kabur dari tempat penjagaan. Ia lenyap tanpa jejak, meninggalkan rasa curiga bahwa ini bagian dari upaya penyusupan atau bahkan percobaan pembunuhan terhadap Soeharto. Beberapa sumber menyebut perempuan itu membawa racun tikus, dan Ibu Tien menafsirkan ini sebagai misi agen rahasia untuk melenyapkan Panglima Kostrad di tengah gejolak G30S/PKI.
Kisah ini sering dikaitkan dengan upaya penyelamatan nyawa Soeharto oleh istrinya yang tegas dan waspada. Ibu Tien, yang dikenal sebagai sosok pendamping setia dan protektif, berhasil menggagalkan potensi ancaman tersebut melalui insting dan tindakan cepatnya.
Cerita ini kembali viral di media sosial dan platform seperti X (dulu Twitter) setelah CNBC Indonesia mengunggah ulang, dengan tagar #IbuTien dan #Soeharto ramai dibahas. Banyak netizen mengenang sosok Ibu Tien sebagai wanita tangguh di balik kekuasaan Orde Baru, yang tak hanya mendukung suami tapi juga menjaga keluarga dari berbagai ancaman.
Meski kisah ini berlatar 1965 dan Ibu Tien telah wafat pada 1996, cerita ini tetap relevan sebagai bagian sejarah keluarga Cendana dan dinamika politik Indonesia pasca-kemerdekaan.
Sumber: CNBC Indonesia (14 Januari 2026 & update Februari 2026), Intisari Online (2019), Tribun-Video, serta kesaksian sejarah terkait keluarga Soeharto.





