Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026), ikut terseret sentimen negatif bursa Asia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan ketegangan Iran-AS-Israel menjadi pemicu utama investor keluar dari aset berisiko.
Sepanjang sesi pertama, IHSG turun 0,87 persen atau 71,45 poin ke level 8.112,94. Sebanyak 312 saham melemah, 198 saham menguat, dan 142 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 12,8 miliar lembar saham senilai Rp 9,7 triliun.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy mengatakan pelemahan ini murni dipengaruhi gejolak geopolitik. “Investor global sedang risk-off karena kekhawatiran pasokan minyak terganggu. Selat Hormuz adalah jalur vital, penutupannya langsung memicu kenaikan harga minyak dan ketidakpastian,” kata Irvan di Jakarta.
Bursa Asia lain juga ikut tertekan. Nikkei 225 Jepang turun 1,2 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,8 persen, Kospi Korea Selatan terkoreksi 1,4 persen, dan Straits Times Singapura turun 0,9 persen.
Sektor yang Paling Tertekan
- Sektor energi dan pertambangan menjadi sorotan, meski beberapa saham komoditas justru naik karena harga minyak dan emas melonjak.
- Saham perbankan dan consumer goods mengalami tekanan jual terbesar karena kekhawatiran inflasi dan pelemahan rupiah.
Analis dari PT Mandiri Sekuritas, Deden Sofyan, memperkirakan IHSG hari ini berpotensi bergerak di rentang 8.050–8.180. “Kalau konflik semakin memanas dan harga minyak tembus US$ 90 per barel, IHSG bisa menguji support psikologis 8.000,” ujarnya.
BEI Tetap Optimistis Jangka Panjang Meski demikian, BEI menilai pelemahan ini bersifat sementara. Irvan menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, cadangan devisa tinggi, dan inflasi terkendali. “Investor domestik masih dominan, jadi kita harap tidak terjadi panic selling,” tambahnya.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan APBN masih aman meski harga minyak dunia naik.
Investor ritel diimbau tetap tenang, diversifikasi portofolio, dan fokus pada saham-saham defensif serta sektor komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak. Pantau terus perkembangan konflik Timur Tengah karena ini akan menjadi penentu arah pasar hari ini dan ke depan.





