KOLOM OPINI Politik

Makna Mendalam Dibalik Pesan KH. Nurul Huda Djazuli

Y
Oleh: Yunus

Ada fenomena menarik dari arena Konbes dan Munas PBNU 2026 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Bahwa Kiyai Nurul Huda Jazuli mewanti-wanti dan mengingatkan kembali akan pesan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tentang pentingnya berjuang dan menghidupkan Jam’iyyah Nahdhatul Ulama.

Menurut tradisi dan riwayat yang berkembang di kalangan Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah berpesan bahwa siapa yang mengurusi NU akan dianggap sebagai santrinya dan didoakan husnul khatimah. Beberapa nasihat beliau antara lain seperti “Masuklah ke dalam NU dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga.” Beliau juga menekankan pentingnya saling tolong-menolong dan menjaga hati yang bersih.

Tak hanya itu, Mbah Hasyim, demikian Para Gus dan Masyayikh di NU biasa memanggil Pendiri NU itu, bahwa mengurus NU tidak sekadar menjadi pengurus struktural di SK organisasi saja. Menjadi warga Nahdliyin yang peduli, kiai kampung, pelajar, hingga santri, semua dianggap sebagai bagian dari pengurus NU asalkan memiliki kepedulian terhadap kemajuan umat.

Senada dengan hal tersebut, sesuai dengan yang dirilis NU Online, ia berpesan kepada seluruh pengurus NU agar tetap tulus dan ikhlas menjalankan roda organisasi, sebagaimana yang telah dicontohkan para Masyayikh NU.   “Kita semua mengerti situasi hari ini, tapi atas keteguhan dan kekuatan dari para Masyayikh kita, NU masih berada dalam keadaan ghaaiman daaiman, bisa bertahan hingga kini.”

Kiai Nurul Huda memiliki sebuah kaidah yang berbunyi: “Jika NU ini hidup maka pondok pesantren ikut hidup, tapi jika NU ini mati, maka otomatis semua ikut mati”.   “Maka, saya sering berdoa kepada Allah agar selalu menghidupkan syiar Islam di tubuh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini beserta pondok pesantrennya,” tuturnya dalam bahasa Arab.

Lebih lanjut, Kiai Nurul Huda mengaku tak menyangka pondok pesantren yang ia asuh akan menjadi pusat perhatian nasional. Ia menyebut situasi di pesantrennya hari ini berbanding terbalik dengan namanya, “pelosok”.

 

“Saya lihat situasi di sini berbeda dengan biasanya. Ploso hari ini sangatlah ramai, banyak ulama dan pejabat yang hadir. Padahal biasanya, Ploso ini ya seperti namanya, pelosok,” ungkapnya.   Ia juga menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran para tokoh di pesantren yang dipimpinnya. Ia menganggap kehadiran para ulama dan pejabat dari penjuru negeri ini sebagai anugerah bagi warga Ploso, bahkan Kecamatan Mojo.

 

⚠️ Disclaimer: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi NusantaraNetwork.

Komentar ditutup.