InsightSyariahRAMADHAN, SYARIATNYA MENUJU KETAKWAAN
KOLOM OPINI Syariah

RAMADHAN, SYARIATNYA MENUJU KETAKWAAN

Dr. KH. Endang Madali, S.H., M.H.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum UNMA Banten

Ramadhan, Ajang Latihan Berkonsisten

Ramadhan merupakan ajang latihan berkonsisten dalam beribadah, yaitu meliputi:

  1. Ramadhan sebagai Latihan, bukan Sekadar Rutinitas

Kata “latihan” menandakan bahwa Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan madrasah jiwa. Ia seperti tanah yang digemburkan agar akar iman dapat menancap lebih dalam. Puasa, salat, tilawah, dan sedekah bukan sekadar kewajiban musiman, melainkan alat pembentuk watak batin. Dengan demikian, Ramadhan merupakan ruang sunyi di mana manusia dilatih mengendalikan diri, menunda keinginan, dan mengasah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan napas. Sehingga jiwa dan raga menyatu dalam keimanan dan keislaman.

  1. Konsistensi: Jiwa dari Ibadah

Konsistensi adalah tanda kejujuran jiwa. Ia bukan ledakan semangat sesaat, melainkan kesetiaan kecil yang diulang setiap hari, meski tanpa sorak, tanpa pujian, ataupun tanpa sorotan. Sehingga ibadah yang konsisten ibarat “tetes air” yang perlahan melubangi “batu” ego. Bukan kerasnya, tapi kesetiaannya yang mengubah bentuk jiwa.

  1. Dari Ramadhan ke Sebelas Bulan Kehidupan

Ramadhan bukan panggung, melainkan cermin. Ia bertanya dengan lembut namun tegas: “Setelah lapar dan haus ini berlalu, apakah engkau masih menjaga nilai yang sama?” Dengan demikian, Ramadhan sejatinya adalah latihan karakter, agar setelah bulan suci pergi, ibadah tidak ikut pergi, akhlak tidak kembali liar, dan kesadaran tidak kembali tertidur.

 

Banyak Jalan Menuju Ketakwaan

Ramadhan adalah sekolah konsistensi, di mana ibadah tidak diajarkan untuk dipamerkan, tetapi untuk dibiasakan; tidak untuk sebulan, melainkan untuk seumur hidup.

Sebagaimana dikatakan oleh Nurcholish Madjid, bahwa banyak pintu menuju Tuhan. Demikian pun ketakwaan, bahwa ada jalan menuju kesempurnaan ketakwaan yang optimal, yaitu pusat Ramadhan. Dari pemikiran besar dan pengalaman spiritual umat, muncul pemaknaan yang dalam mengenai ketakwaan itu sendiri.

  1. Banyak Pintu Menuju Tuhan: Kerendahan Hati Spiritual

Nurcholish Madjid mengingatkan kita pada satu kebijaksanaan agung: Tuhan tidak kecil, maka jalan menuju-Nya pun tidak sempit. Oleh karenanya banyak pintu menuju Tuhan, berarti: (a) Tuhan tidak dimonopoli oleh satu bentuk lahiriyah; (b) kesalehan tidak tunggal dalam rupa, dan (c) ketakwaan tidak boleh melahirkan kesombongan rohani.

  1. Ketakwaan sebagai Jalan, Bukan Status

Ketakwaan merupakan syariat (jalan) menuju kedekatan diri kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Hal ini untuk mengingatkan kita, bahwa ketakwaan bukanlah sebagai “gelar”, namun ia sebagai proses panjang pendewasaan jiwa. Dengan demikian, ketakwaan bukanlah sekadar identitas sosial, bukan tampilan luar, dan bukan pula klaim moral.

Ketakwaan merupakan kesadaran terus-menerus bahwa hidup ini diawasi oleh nilai Ilahi, bahkan saat tak seorang pun melihat.

 

  1. Ramadhan sebagai Pusat: Matahari Ketakwaan

Sebagaimana terungkap dalam surah al-Baqarah [2] ayat 183, secara eksplisit dikatakan bahwa, “Ramadhan sebagai pusat menuju kesempurnaan ketakwaan.” Ramadhan adalah seperti matahari, di mana ia bukan satu-satunya cahaya, namun pusat yang menyinari seluruh orbit ibadah.

Puasa melatih pengendalian diri, salat malam melatih keheningan batin, zakat dan sedekah melatih pelepasan ego, dan tilawah atau tadarus Al-Qur’an melatih keakraban dengan kalam (firman) Allah Swt.

Dengan demikian, segala amal ibadah tersebut bukan tujuan, melainkan latihan menuju jiwa yang bertakwa secara utuh.

 

Jalan Menuju Allah Swt.

Menurut pendapat Syekh Zainuddin Al-Malibari, seorang ulama besar Nusantara, Hijaz — yang menulis Hidāyatus Sālikīn, kitab yang menjadi lentera bagi para penempuh jalan Allah, bahwa jalan menuju Allah Swt. agar seseorang selamat dunia dan akhirat adalah mengamalkan ilmu syariat, tarekat dan hakikat. Hal ini, sesungguhnya beliau sedang menyusun tangga jiwa, bukan membagi agama menjadi bagian-bagian parsial (golongan). Namun, membahas kajian Islam secara komprehensif (menyeluruh).

 

Ilmu Syariat: Akar yang Menopang Seluruh Jalan

Dalam pandangan Syekh Zainuddin Al-Malibari, bahwa syariat adalah pondasi. Tanpa syariat, tarekat menjadi liar; tanpa syariat, hakikat berubah menjadi ilusi (khayalan).

Syariat adalah akar pohon spiritual: tak selalu terlihat, namun tanpanya pohon tak akan tegak.

Adapun pengamalan ilmu syariat meliputi empat ruang utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Ilmu Aqidah (Tauhid) — Meluruskan Arah Jiwa

Adalah sebagai penyadaran keimanan (al-wa’yu al-i’tiqādī), guna aqidah itu menata keyakinan: (a) siapa yang disembah; (b) mengapa manusia hidup; dan (c) kepada siapa jiwa akan kembali.

Tanpa aqidah yang lurus, ibadah hanyalah gerak tubuh, dan spiritualitas menjadi kabur arah.

 

  1. Ilmu Ibadah (Fiqih ‘Ubudiyah) — Melatih Kepatuhan Raga dan Jiwa

Kaitan hal ini sebagai disiplin lahiriah yang mengikat tubuh pada kehendak Allah Swt., yaitu meliputi: salat, puasa, zakat, haji, dan segala bentuk ibadah wajib maupun sunnah.

  1. Ilmu Muamalah — Menata Hubungan dengan Sesama

Syariat tidak hanya mengatur hubungan ke langit (vertikal), tetapi juga hubungan ke bumi (horizontal). Di antara kaitan dengan muamalah, yaitu: (a) kejujuran dalam transaksi; (b) keadilan dalam relasi sosial; (c) tanggung jawab dalam pekerjaan; dan (d) amanah dalam jabatan.

Orang yang rajin ibadah tapi merusak sesama, dalam pandangan syariat, belum selamat jalannya. Sehingga syariat mengajarkan kepada kita, bahwa kesalehan spiritual harus berdampak sosial.

  1. Ilmu Akhlak — Membersihkan Wajah Batin

Berkenaan akhlak ini merupakan puncak syariat sebelum seseorang memasuki tarekat. Karena akhlak itu meliputi, di antaranya: (a) menyingkirkan sifat sombong, iri, dengki, dan ria; juga sebaliknya (b) menumbuhkan sabar, syukur, rendah hati, dan kasih.

Sebagai rumusan, menurut Syekh Zainuddin, bahwa tidak ada jalan ke hakikat bagi jiwa yang masih kotor oleh ego. Sebagai bahasa, yaitu “akhlak adalah cermin”, di mana tanpanya cahaya hakikat tidak akan memantul.

 

Menjadi “Rabbāniyyan”, bukan “Ramadhāniyyan”

Sesungguhnya perbuatan yang paling utama di sisi Allah Swt. adalah yang paling berat dilakukan oleh manusia. Sebab, nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari bentuk lahiriahnya, tetapi dari kesungguhan jiwa, keikhlasan niat, dan keteguhan dalam menahan dorongan nafsu. Salah satu ibadah yang termasuk berat bagi manusia adalah berpuasa Ramadhan selama satu bulan penuh, karena puasa menuntut pengendalian diri secara menyeluruh: menahan lapar dan dahaga, menjaga lisan, menundukkan pandangan, mengendalikan emosi, serta menata niat agar tetap lurus karena Allah semata.

Puasa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan makan dan minum, tetapi sebuah latihan spiritual yang intens. Di dalamnya, manusia belajar disiplin waktu, kesabaran, empati terhadap kaum lemah, serta kejujuran batin, karena puasa adalah ibadah yang sangat personal — hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Kesungguhan dalam menjalani puasa selama sebulan penuh mencerminkan komitmen seorang hamba untuk mendekat kepada Tuhan, membersihkan hati, dan memperbaiki akhlak.

Karena itulah, puasa Ramadhan memiliki kedudukan istimewa. Ia menjadi madrasah (sekolah) rohani yang membentuk ketakwaan, melatih kepekaan sosial, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan bukan semata pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga perjalanan spiritual menuju kesempurnaan jiwa. Dengan menjalani puasa secara sungguh-sungguh, manusia tidak hanya meraih pahala, tetapi juga membangun karakter, kedewasaan spiritual, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sehingga terwujud sebuah slogan, “Kun Rabbāniyyan, wa lā takun Ramadhāniyyan” (Jadilah orang yang Rabbani, ‘bersifat ketuhanan, selalu dekat dan taat kepada Allah,’ dan janganlah hanya menjadi orang Ramadhani, ‘yang beribadah hanya di bulan Ramadhan’).

Semoga!

Penulis: Dr. KH. Endang Madali, S.H.I., M.A.

Akademisi dan Praktisi Hukum (Advokat).

(EM/berbagai sumber).

 

⚠️ Disclaimer: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi NusantaraNetwork.com.

Dr. KH. Endang Madali, S.H., M.H.

Dr. KH. Endang Madali, S.H., M.H.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum UNMA Banten

Komentar ditutup.