Jakarta – Iran secara resmi menutup Selat Hormuz mulai Senin (3/3/2026). Langkah ini diumumkan langsung oleh komandan senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang menyatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi selat tersebut akan langsung ditargetkan. Penutupan ini menjadi eskalasi baru dalam konflik Iran-Israel-AS dan langsung mengguncang pasar energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari atau setara 31 persen dari total pengiriman minyak laut dunia. Penutupan ini juga mengancam pasokan LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab yang mencapai 20 persen ekspor global.

Negara-Negara Paling Terpukul Menurut catatan analis dari Nomura, Kpler, dan Rystad Energy, berikut negara-negara yang paling berat terdampak:

  • Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina: Paling rentan karena ketergantungan impor minyak yang sangat tinggi. Kenaikan harga minyak 10 persen saja bisa memperburuk defisit transaksi berjalan Thailand hingga 0,5 persen dari PDB.
  • Pakistan dan Bangladesh: Sangat terancam pasokan LNG (Pakistan 99 persen dan Bangladesh 72 persen berasal dari Qatar & UAE). Cadangan penyimpanan terbatas, sehingga kemungkinan besar terjadi pemadaman listrik dan penurunan permintaan energi secara cepat.
  • China: Impor minyak mentah lebih dari 80 persen melewati Selat Hormuz. Meski punya cadangan strategis, China tetap terpapar material dan akan bersaing ketat dengan negara lain untuk suplai alternatif.
  • Jepang dan Korea Selatan: Ketergantungan energi dari Timur Tengah mencapai 70–75 persen. Cadangan LNG mereka hanya cukup untuk 2–4 minggu.

Harga Minyak Melonjak, Inflasi Mengancam Harga minyak Brent langsung naik 2,6 persen menjadi sekitar US$ 80 per barel (naik hampir 10 persen sejak konflik meletus). Analis memprediksi jika penutupan berlarut-larut, harga bisa tembus US$ 100–150 per barel. Hal ini akan memicu inflasi energi di seluruh Asia dan memaksa negara-negara mengeluarkan cadangan strategis.

Analis Kpler, Katayama, menyatakan: β€œPakistan dan Bangladesh memiliki fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas, sehingga gangguan ini kemungkinan besar akan memicu penurunan permintaan sektor energi yang cepat.”

Sementara itu, analis Nomura menambahkan bahwa Malaysia justru diuntungkan sebagai eksportir energi, sedangkan Thailand menjadi yang paling rentan di Asia Tenggara.

Konteks Geopolitik Penutupan Selat Hormuz merupakan respons Iran atas serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta serangan drone Iran ke fasilitas Qatar dan Saudi Aramco. Situasi ini semakin memanas setelah Iran merebut kapal tanker milik sekutu AS di selat tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda pembukaan kembali selat. Negara-negara importir energi besar di Asia kini berlomba mencari suplai alternatif dari Atlantik, yang berpotensi menimbulkan kelangkaan dan harga yang lebih mahal.

Masyarakat Indonesia diimbau tetap waspada karena kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memengaruhi harga BBM nonsubsidi dan inflasi dalam negeri. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina terus memantau perkembangan untuk menjaga pasokan domestik.