Jakarta– Harga emas dunia dan lokal mengalami penurunan signifikan meski konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran semakin memanas.

Padahal, emas biasanya menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Pasca-libur Lebaran 2026 yang dimulai hari ini, pelaku pasar memantau apakah harga komoditas emas akan rebound atau justru melanjutkan koreksi dalam satu pekan ke depan.

Menurut data Trading Economics per 20 Maret 2026, harga emas spot dunia anjlok 3,48% menjadi US$4.488,72 per troy ounce. Penurunan ini merupakan yang terburuk dalam 43 tahun terakhir untuk periode mingguan, dengan koreksi sebesar 14,13% sepanjang satu bulan terakhir.

Meski masih naik 48,45% year-on-year, level ini jauh di bawah rekor tertinggi US$5.608,35 yang tercatat pada Januari 2026.

Di pasar domestik, harga emas Antam PT Aneka Tambang (Antam) stabil di Rp2.893.000 per gram untuk ukuran 1 gram pada 21 Maret 2026 (data Logam Mulia). Namun, dibandingkan awal Maret ketika sempat menyentuh Rp3.123.000 per gram (UBS Pegadaian), harga telah turun lebih dari Rp200.000 per gram. Produk Antam ukuran 0,5 gram dibanderol Rp1.496.500, sementara 5 gram Rp14.240.000.

 

Mengapa Harga Emas Turun Meski Perang Iran-AS Berkecamuk?

 

Perang Iran-AS (atau lebih tepatnya operasi militer AS-Israel melawan Iran) dimulai sejak 28 Februari 2026 melalui serangkaian serangan udara. Konflik ini telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz. Namun, alih-alih melonjak, harga emas justru merosot.

Analis menjelaskan fenomena ini terjadi karena investor lebih memilih likuiditas tunai di tengah panic selling saham global. Dollar AS menguat tajam, sementara yield Treasury naik akibat ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dari lonjakan harga energi. “Emas kehilangan daya tariknya sebagai safe haven karena investor menjual bullion untuk menutup posisi margin di pasar ekuitas yang anjlok,” tulis analis Investing.com.

Di Indonesia, gejolak ini juga memengaruhi sentimen. Meski permintaan emas fisik Antam sempat melonjak jelang Ramadan karena faktor musiman, kini tekanan dari dolar dan suku bunga global mendominasi.

Hari pertama Lebaran jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026, sehingga pasar keuangan dan butik emas mengalami libur panjang. Secara historis, pasca-Lebaran sering terjadi fenomena “jual balik” (buyback) dari masyarakat yang menjual emas untuk kebutuhan mudik atau tunai. Namun, tahun ini situasi berbeda karena perang masih berlangsung.

Harga Antam tercatat stabil selama hari pertama Lebaran, tetapi analis memprediksi volatilitas tinggi saat pasar buka kembali. Permintaan investasi ritel di Indonesia biasanya meningkat setelah libur karena pemulihan ekonomi dan THR yang tersisa.

Prospek Komoditas Emas 1 Pekan ke Depan

Untuk satu pekan pasca-Lebaran, prospek emas cenderung fluktuatif dengan potensi rebound terbatas. Beberapa faktor pendukung:

– Geopolitik tetap mendukung: Jika ketegangan Iran-AS berlanjut (termasuk ancaman rudal ke pangkalan AS), permintaan safe haven bisa kembali menguat.

– Prediksi analis domestik: Bisnis.com dan sumber lokal lainnya memproyeksikan kenaikan 3-7% dalam 2-3 bulan pasca-Lebaran seiring pulihnya aktivitas ekonomi dan minat investasi. Namun, dalam 1 pekan ini, koreksi teknis Rp20.000–50.000 per gram Antam masih mungkin terjadi.

– Faktor global: Penguatan dolar dan keputusan The Fed soal suku bunga menjadi kunci. Jika dollar melemah, emas berpotensi naik ke kisaran US$4.600–4.800 per ounce.

Sebaliknya, risiko penurunan tetap ada jika pasar saham global stabil dan investor kembali ke aset berisiko. Prediksi jangka pendek dari WalletInvestor dan LongForecast menunjukkan tren bullish secara keseluruhan sepanjang 2026, dengan target akhir tahun bisa mencapai US$5.000–6.000 per ounce.

Penurunan harga emas di tengah perang Iran-AS menjadi pelajaran bahwa faktor likuiditas dan dolar AS kadang lebih kuat daripada sentimen geopolitik. Pasca-libur Lebaran, investor ritel disarankan memantau pergerakan harga Antam secara harian dan mempertimbangkan averaging jika terjadi koreksi lebih dalam.

Bagi yang sudah hold emas, hold tetap menjadi strategi terbaik menurut mayoritas analis, mengingat outlook 2026 masih positif. Pantau terus update dari Logam Mulia Antam dan situs global seperti Kitco atau Bloomberg untuk keputusan investasi yang tepat.

Perlu diingat, bahwa besaran harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar global. Riset dan perhatikan dengan cermat sebelum Anda memutuskan untuk investasi emas.