Euforia Tahun Baru dengan Doa dan Donasi, Pemprov DKI Berempati Untuk Korban Bencana di Sumatera dan Aceh

Euforia Tahun Baru dengan Doa dan Donasi, Pemprov DKI Berempati Untuk Korban Bencana di Sumatera dan Aceh

31 Desember 2025 • Penulis: Yunus

NUSANTARANETWORK.COM-Di tengah suasana duka nasional akibat bencana alam yang melanda wilayah Sumatera, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutuskan untuk mengubah total konsep perayaan malam Tahun Baru 2026. Alih-alih pesta kemeriahan dengan kembang api dan hiburan besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini akan diisi dengan agenda doa bersama, muhasabah, dan penggalangan donasi bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Keputusan ini mencerminkan sikap empati dan solidaritas dari Ibu Kota terhadap saudara-saudara yang sedang berjuang pulih dari musibah.

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi akhir November 2025 telah menimbulkan kerugian besar di tiga provinsi tersebut. Menurut data resmi, sedikitnya 604 orang meninggal dunia, 464 hilang, ribuan luka-luka, dan lebih dari 570.000 jiwa mengungsi. Kerusakan infrastruktur, rumah, dan lahan pertanian mencapai triliunan rupiah, dengan estimasi biaya rekonstruksi minimal Rp51,82 triliun. Pemerintah pusat telah menyatakan pendekatan kemandirian dengan menggunakan dana APBN dan kontribusi BUMN, meski hal ini menuai kritik karena potensi beban fiskal jangka panjang. Di tengah situasi ini, Pemprov DKI memilih untuk tidak menampilkan kemeriahan berlebihan, sejalan dengan imbauan nasional untuk merayakan tahun baru dengan cara yang lebih bermakna.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa perubahan konsep ini adalah bentuk “ruang empati dan solidaritas” bagi para penyintas bencana. “Jakarta bukan hanya pusat ekonomi, tapi juga pusat kemanusiaan. Kita tidak pantas membakar langit dengan kembang api saat saudara kita sedang berduka,” ujar Pramono dalam keterangan resminya. Sebagai gantinya, perayaan akan digelar di delapan titik utama, termasuk Bundaran HI sebagai pusat acara, dengan agenda utama doa bersama dan penggalangan donasi. Elemen hiburan seperti drone show dan video mapping akan ditampilkan secara sederhana, sementara pesta kembang api dilarang sepenuhnya. Pemprov juga mengajak perusahaan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menyalurkan bantuan melalui lembaga seperti Baznas Bazis DKI Jakarta.

Tidak hanya di Jakarta, inisiatif serupa juga diadopsi oleh pemerintah daerah lain. Kota Surabaya dan Denpasar, Bali, memutuskan meniadakan pesta kembang api dan mengimbau masyarakat untuk doa bersama serta donasi. Di Jakarta Barat, misalnya, malam tahun baru akan diisi dengan penggalangan dana langsung bagi korban bencana Sumatera. Sementara di Jakarta Timur, Wali Kota mengimbau perayaan sederhana dengan lantunan lagu religi dan doa. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyambut tahun baru di Aceh bersama warga terdampak, sebagai simbol empati nasional.

Respons masyarakat terhadap kebijakan ini mayoritas positif. Di media sosial, banyak warga yang menyambut baik langkah Pemprov DKI, menyebutnya sebagai “nice move” dan ajakan untuk merayakan tahun baru dengan cara lebih manusiawi. Sebuah postingan di X menyatakan, “Setuju kalau tahun ini kita rayakan tahun baru dengan cara yang lebih ‘manusiawi’?” sambil menekankan pentingnya empati atas musibah di Sumatera. Komunitas seperti ARMY (fans BTS) pun turut serta dalam penggalangan donasi, dengan slogan “Borahae for Sumatra” sebagai bentuk solidaritas. Namun, ada juga suara yang mempertanyakan kebijakan pemerintah dalam menolak bantuan luar negeri, yang dianggap membebani rakyat sendiri.

Perubahan konsep perayaan Tahun Baru 2026 ini bukan hanya sekadar penyesuaian acara, melainkan pesan kuat tentang kemanusiaan di tengah cobaan. Seperti yang disampaikan Pemprov DKI, “Rayakan tahun baru dengan langkah yang lebih bermakna dari Jakarta untuk Sumatra.” Di malam pergantian tahun ini, mari kita renungkan bersama: solidaritas nasional adalah kembang api terindah yang bisa kita nyalakan.