
Langkah Nyata Setahun Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan dalam Menjaga Ekosistem Budaya yang Kian Bernyawa
NUSANTARANETWORK.COM-Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus bergerak bersama masyarakatnya. Sepanjang tahun 2025, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (Ditjen PPPK), Kementerian Kebudayaan meneguhkan perannya dalam memastikan kebudayaan Indonesia tetap tumbuh, relevan, dan berkelanjutan melalui kerja kolaboratif lintas sektor, wilayah, dan generasi.
Upaya ini tercermin dari keterlibatan 76.840 pelaku budaya serta partisipasi 321.942 masyarakat dalam berbagai kegiatan kebudayaan di seluruh Indonesia. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 272 kegiatan dan event kebudayaan baik inisiatif pemerintah maupun dukungan terhadap inisiatif masyarakat terselenggara sebagai ruang temu gagasan, ekspresi, dan apresiasi budaya.
“Kebudayaan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi hidup karena ada ekosistem yang saling terhubung antara pelaku, komunitas, ruang, dan publiknya. Atas arahan Bapak Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Sepanjang 2025, kami berupaya merawat keterhubungan itu agar kebudayaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hadir sebagai praktik yang berdampak,” ujar Direktur Jenderal PPPK, Ahmad Mahendra.
Ekosistem perfilman Indonesia mencatat prestasi signifikan di kancah global dan domestik. Secara internasional, 85 sineas difasilitasi untuk berpartisipasi dalam enam festival film, menghasilkan 27 nominasi dan lima penghargaan bergengsi. Di dalam negeri, antusiasme publik cukup tinggi dengan 10.007 penonton dalam kegiatan nonton bersama di 41 kota. Sebanyak 45.474 film dan iklan telah disensor dan 17814 mengikuti Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri.
Sektor musik menunjukkan aktivitas yang padat. Sebanyak 5.227 lagu didaftarkan pada ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards). Selain itu, Konferensi Musik Indonesia yang melibatkan 400 musisi dan 14 Kementerian/Lembaga berhasil merumuskan 15 rekomendasi strategis untuk pengembangan industri.Dunia sastra mengumpulkan 180.000 pengunjung yang berpartisipasi dalam 18 festival sastra yang untuk pertama kalinya tergabung dalam konsorsium festival sastra nasional. Sebanyak 35 lokus melaksanakan penguatan komunitas sastra. Upaya internasionalisasi sastra juga terlihat dengan diterjemahkannya 47 karya sastra ke dalam bahasa asing.
Bidang Seni Pertunjukan menyelenggarakan beberapa acara penting. Panggung Maestro melibatkan 61 maestro dari berbagai wilayah di Indonesia Festival Pasca Penciptaan mempresentasikan 16 karya unggulan, sementara empat Festival Teater Indonesia melibatkan 126 kelompok teater.
Sektor Seni Rupa aktif melalui berbagai kegiatan. Festival Komunitas Seni Media melibatkan 90 seniman dan 154 peserta workshop dan berhasil menggaet lebih dari 28.000.000 pengunjung. Sebanyak 150 seniman rupa berpartisipasi dalam art market dan biennale ternama.
Upaya merawat kebudayaan juga dilakukan melalui penghidupan kembali ruang-ruang budaya. Sepanjang 2025, Ditjen PPPK melaksanakan revitalisasi dan pengadaan sarana budaya di 60 lokus, serta aktivasi 29 ruang publik di berbagai daerah. Revitalisasi ini diarahkan agar aset budaya tidak hanya lestari secara fisik, tetapi berfungsi sebagai ruang belajar, berekspresi, dan berinteraksi bagi masyarakat.
Dirjen Mahendra menambahkan, “Aset budaya harus kembali menjadi ruang hidup tempat orang bertemu, belajar, dan mencipta. Di situlah kebudayaan menemukan relevansinya hari ini,” tuturnya.“Di era digital, kebudayaan tidak lagi berhenti pada ruang dan waktu. Melalui berbagai program inovasi budaya, kita memastikan bahwa warisan budaya Indonesia hidup, bergerak, dan menjangkau generasi baru bukan hanya sebagai arsip masa lalu, tetapi sebagai sumber daya kreatif masa depan,” terang Ahmad Mahendra.
Di ranah digital, kebudayaan Indonesia menjangkau audiens yang semakin luas. Indonesiana.TV mencatat 1,5 juta penonton dengan 63.246 pengguna terdaftar, sementara digitalisasi warisan budaya meningkat menjadi 8.827 data dalam berbagai format, mulai dari 3D modeling hingga pengalaman imersif.
Program inovasi seperti IP-Nesia, Budaya GO! yang melibatkan 627 tim dari 33 provinsi, serta Peta Interaktif Budaya Indonesia menjadi pintu masuk bagi kolaborasi antara seni, teknologi, dan generasi muda, sekaligus membuka kehadiran budaya Indonesia di ruang digital global.
Melalui program prioritas nasional Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, Ditjen PPPK bersama 200 mitra sanggar, komunitas, festival, dan market di dalam dan luar negeri menyiapkan talenta seni budaya menuju Indonesia Emas 2045. Sepanjang 2025, 30.000 peserta mengikuti proses pembibitan, dengan 5.685 talenta potensial dan unggul terdaftar dalam basis data MTN. Sebanyak 167 talenta memperoleh rekognisi internasional, dan program ini menjangkau 28 negara serta 55 kota/kabupaten.
“Talenta budaya membutuhkan ruang tumbuh, bukan hanya panggung sesaat. MTN Seni Budaya hadir sebagai ekosistem jangka panjang, agar talenta Indonesia bertumbuh dengan akar yang kuat dan daya saing global, sekaligus mewujudkan talenta Indonesia Emas 2025” jelas Dirjen Mahendra.
Penguatan ekosistem juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas dan apresiasi. Sepanjang 2025, 1.071 pelaku budaya mengikuti bimbingan teknis dan sertifikasi, 150 Desa Budaya diperkuat di 33 provinsi, serta 123 tokoh dan pelaku budaya menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia. Program seperti Gita Bahana Nusantara, Wiwara, serta penghargaan bagi maestro musik dan seni tradisi menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi lintas generasi.
Memasuki 2026, capaian satu tahun ini menjadi fondasi untuk melanjutkan ikhtiar bersama. Ditjen PPPK akan terus memperkuat ekosistem budaya yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan agar kebudayaan Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi terus tumbuh, memberi dampak nyata bagi masyarakat, dan hadir dengan percaya diri di panggung dunia.
