Jakarta – Eskalasi perang antara Iran dan Israel yang semakin memanas pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei membuat harga emas dunia melonjak tajam. Beberapa analis global bahkan memprediksi harga emas bisa menembus level ekstrem US$ 6.000 per ons (sekitar Rp 96 juta per gram) jika konflik berubah menjadi perang regional penuh.

Prediksi bombastis ini disampaikan oleh analis komoditas senior dari Goldman Sachs, Jeffrey Currie, dalam laporan terbarunya pada Senin (3/3/2026). “Jika Selat Hormuz terganggu dan pasokan minyak global terputus signifikan, emas bukan lagi sekadar safe haven, tapi akan menjadi aset perlindungan utama. Kami tidak menutup kemungkinan harga tembus US$ 6.000 per ons dalam skenario terburuk,” kata Currie.

Saat ini (per 3 Maret 2026), harga emas spot sudah mencapai US$ 2.980 per ons — level tertinggi sepanjang masa — naik lebih dari 18 persen hanya dalam dua minggu terakhir sejak serangan AS-Israel ke Teheran.

Mengapa Bisa Tembus US$ 6.000? Analis dari UBS dan JPMorgan juga ikut memberikan proyeksi serupa:

  • UBS: Dalam skenario perang penuh, harga emas bisa mencapai US$ 4.500–5.500 per ons dalam 6–12 bulan.
  • JPMorgan: Jika Iran menutup Selat Hormuz (20 persen pasokan minyak dunia), harga emas berpotensi menyentuh US$ 6.000–6.500 per ons karena inflasi global dan capital flight ke aset aman.

Di Indonesia, harga emas Antam dan Pegadaian sudah ikut melonjak. Emas UBS 1 gram hari ini menyentuh Rp 3.250.000 (naik Rp 127.000 dari pekan lalu), sementara Galeri 24 mencapai Rp 3.210.000 per gram.

Dampak ke Indonesia Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui kenaikan harga emas ini menjadi sinyal kuat bahwa investor global sedang mencari perlindungan. “Ini juga menguntungkan cadangan devisa kita karena emas merupakan bagian dari cadangan,” ujar Purbaya. Namun, ia mengimbau masyarakat tidak panic buying karena harga diprediksi sangat volatil.

Ekonom senior dari Indef, Ahmad Heri Firdaus, menambahkan: “Kalau perang berlarut, bukan hanya emas, harga minyak juga bisa tembus US$ 150 per barel. Dampaknya ke inflasi dan rupiah akan sangat besar.”

Saran untuk Investor

  • Bagi yang sudah punya emas fisik atau reksa dana emas, analis sarankan hold jangka panjang.
  • Bagi yang ingin masuk, disarankan beli secara bertahap (dollar cost averaging) karena risiko koreksi tetap ada jika negosiasi damai berhasil.
  • Hindari leverage atau pinjaman untuk beli emas di tengah ketidakpastian geopolitik ini.

Situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis. Harga emas bisa terus naik selama ketegangan berlanjut, tapi juga berpotensi koreksi tajam jika ada tanda-tanda gencatan senjata.

Pantau terus perkembangan konflik Iran-Israel karena ini akan menjadi penentu arah harga emas ke depan. Apakah benar-benar tembus US$ 6.000 atau hanya sekadar prediksi ekstrem, waktu yang akan menjawab.