Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami konsolidasi atau pergerakan sideways pada Maret 2026, di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang memicu ketidakpastian global. Analis pasar modal memperingatkan risiko pelemahan lebih dalam jika konflik berkepanjang, meski ada peluang di sektor energi dan komoditas.

Direktur PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 7.712 hingga 8.528 sepanjang Maret. “Konflik ini bisa memicu pola risk-off di pasar global, di mana investor cenderung keluar dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke safe haven seperti emas atau dolar AS,” ujar Nico dalam analisisnya, Minggu (1/3/2026).

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa tekanan terhadap IHSG datang dari dua sisi: capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets seperti Indonesia, serta risiko inflasi impor akibat lonjakan harga minyak global. “IHSG berpotensi melemah dan menguji support di level 8.133. Jika jebol, area psikologis 8.000 menjadi target berikutnya,” kata Hendra.

Konflik ini memanas setelah serangan udara gabungan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pejabat tinggi. Iran membalas dengan rudal ke basis AS dan Israel, menimbulkan kekhawatiran perang regional yang bisa ganggu pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Ekonom Indef, Ahmad Heri Firdaus, bilang ini bisa dorong harga minyak naik hingga 100 persen, capai US$140 per barel, yang berdampak ke inflasi domestik dan beban subsidi BBM.

Di sisi lain, sektor energi dan komoditas seperti minyak, gas, dan emas berpotensi untung. Harga emas dunia melonjak ke rekor baru, dan saham-saham seperti PT Pertamina (Persero) atau emiten tambang emas diprediksi jadi pilihan investor. “Ini peluang di tengah gejolak, tapi tetap waspada volatilitas,” tambah analis dari CNBC Indonesia.

Investor ritel diimbau diversifikasi portofolio, hindari spekulasi jangka pendek, dan pantau berita geopolitik. Bank Indonesia (BI) kemungkinan intervensi untuk stabilkan rupiah yang rawan melemah ke Rp17.000 per dolar AS. Pemerintah juga diminta siapkan strategi mitigasi untuk lindungi ekonomi domestik dari guncangan eksternal ini.