Washington, DC – Setidaknya 8 juta warga Amerika Serikat turun ke jalan di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (28 Maret 2026) dalam aksi demonstrasi nasional bertajuk “No Kings”. Aksi damai yang masif ini mengecam keras kebijakan Presiden Donald Trump, khususnya keterlibatan militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir.
Demonstran dari berbagai kalangan — mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga kelompok aktivis — meneriakkan slogan “End This War” dan “No Kings in America”. Mereka menuduh pemerintahan Trump telah menyeret AS ke dalam konflik berdarah di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak, inflasi domestik, serta ancaman keamanan global. Protes berlangsung serentak di kota-kota besar seperti Washington DC, New York, Los Angeles, Chicago, dan Philadelphia, serta di banyak kota kecil di negara bagian merah maupun biru.
Koalisi penyelenggara No Kings menyatakan aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap “otoritarianisme” Trump dan kebijakan luar negeri yang dianggap agresif. Demonstrasi ini menjadi salah satu aksi protes terbesar dalam sejarah AS baru-baru ini.
Pihak berwenang AS merespons demonstrasi tersebut dengan campuran pengawasan ketat dan pernyataan resmi. Juru Bicara Gedung Putih Abigail Jackson menyebut aksi “No Kings” sebagai “Trump Derangement Therapy Sessions” yang hanya menarik perhatian media.
“Satu-satunya orang yang peduli dengan Sesi Terapi Gangguan Trump ini adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Abigail Jackson dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS melaporkan beberapa insiden kecil di Los Angeles. Dua orang ditangkap karena menyerang petugas federal dengan melempar batu bata, dan dua petugas mengalami luka. DHS menyatakan pihaknya terus memantau situasi untuk menjamin keamanan publik.
Meski demikian, sebagian besar aksi berlangsung damai dan tertib. Kepolisian di berbagai kota melaporkan tidak ada kerusuhan besar, meski beberapa demonstran ditangkap karena tidak membubarkan diri di area terlarang dekat gedung federal.
Demonstrasi “No Kings” ini merupakan gelombang ketiga dalam waktu kurang dari setahun yang menargetkan kebijakan Trump, kali ini semakin menguat karena eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
Pemerintahan Trump hingga kini belum memberikan respons resmi lebih lanjut selain pernyataan juru bicara Gedung Putih yang cenderung meremehkan skala demonstrasi. Sementara itu, demonstran berjanji akan melanjutkan tekanan hingga pemerintah menghentikan keterlibatan AS dalam konflik Iran.





