Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik kritis. Presiden Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Teheran: buat kesepakatan nuklir dalam 10–15 hari atau hadapi “hal-hal yang sangat buruk”. Iran langsung membalas dengan ancaman tegas bahwa seluruh pangkalan, fasilitas, dan aset militer AS di kawasan akan menjadi “target sah” jika diserang.

Pernyataan Trump disampaikan dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC pada Kamis (19/2/2026). “Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi,” kata Trump, sebagaimana dikutip Reuters dan Al Jazeera. Ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan memberi tenggat waktu maksimal 15 hari.

Sementara itu, militer AS telah melakukan buildup besar-besaran di Timur Tengah. Menurut laporan CNN dan Reuters, puluhan jet tempur, dua kapal induk, dan berbagai aset strategis sudah siap. Sumber militer AS menyebut serangan bisa dilancarkan paling cepat akhir pekan ini (21–22 Februari 2026), meski Trump belum mengambil keputusan akhir.

Respons Keras Iran Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengirim surat resmi ke Dewan Keamanan PBB pada Jumat (20/2/2026). “Pernyataan agresif Presiden AS menandakan risiko nyata agresi militer yang akan membawa malapetaka bagi kawasan dan perdamaian internasional,” tulis Iravani.

Ia menambahkan, jika AS melancarkan serangan, “semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan AS di kawasan akan menjadi target yang sah.” Ancaman ini sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari Menteri Luar Negeri Iran yang menyatakan Teheran siap “gempur habis” pangkalan-pangkalan AS di Teluk Persia dan sekitarnya.

Latar Belakang Konflik Ketegangan ini berawal dari kegagalan putaran kedua perundingan tidak langsung di Jenewa (17 Februari 2026). Trump menekankan bahwa Iran harus menghentikan pengayaan uranium hingga nol persen, membatasi program rudal balistik, dan menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.

Sementara itu, pasar minyak dunia sudah bereaksi. Harga Brent sempat naik lebih dari 3% karena kekhawatiran penutupan Selat Hormuz – jalur pengangkutan minyak global yang bisa diblokir Iran.

Implikasi Global Para analis memperingatkan, serangan AS ke Iran berpotensi memicu perang regional yang lebih luas, termasuk keterlibatan Israel, Hizbullah, dan kelompok lainnya. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan sedang memantau situasi dan mengimbau seluruh WNI di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan.

Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum merilis keputusan final Trump. Dunia kini menunggu dalam 10 hari ke depan apakah diplomasi berhasil atau Timur Tengah kembali terbakar.

(Sumber: CNBC Indonesia, CNN, Reuters, Al Jazeera, MetroTV, dan pernyataan resmi PBB – 19–20 Februari 2026)