Jakarta – Dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami tekanan berat di awal 2026, dengan indeks DXY (US Dollar Index) sempat menyentuh level terendah hampir empat tahun di kisaran bawah 97. Fenomena ini mencerminkan retaknya kepercayaan global terhadap greenback sebagai aset safe haven utama, mendorong investor institusional dan negara-negara besar mulai “angkat kaki” dari aset berdenominasi dolar.
Artikel CNBC Indonesia berjudul “Kepercayaan ke Dolar AS Retak, Investor Global Pilih Angkat Kaki!” (6 Februari 2026) menyoroti bahwa pelemahan dolar tidak hanya dipicu satu faktor. Penyebab utama termasuk menyempitnya selisih suku bunga antara AS dan negara maju lainnya, ekspektasi pemotongan suku bunga Fed yang lebih agresif, serta ketidakpastian kebijakan domestik AS di bawah administrasi saat ini—termasuk isu tarif perdagangan, defisit fiskal, dan risiko shutdown pemerintah.
Dalam setahun terakhir, dolar telah melemah signifikan, dengan penurunan tahunan terbesar dalam delapan tahun pada 2025. Memasuki 2026, tren ini berlanjut: DXY sempat tertekan ke level terendah sejak 2022, meski ada upaya rebound kecil di pertengahan Februari (sekitar 97,9 pada 20 Februari 2026). Analis dari berbagai lembaga seperti Investing.com, deVere Group, dan Reuters menyebut supremasi dolar “cracking” atau retak, dengan investor membangun “escape route” melalui diversifikasi ke emas, euro, yen, franc Swiss, hingga aset digital.
Beberapa pemicu kunci:
- Kebijakan Trump-era lanjutan yang dianggap menciptakan volatilitas, termasuk ancaman tarif dan pernyataan yang meremehkan pelemahan dolar.
- De-dollarization gradual: Pangsa dolar dalam cadangan devisa global turun ke sekitar 59% (dari 70% di awal 2000-an), dengan bank sentral emerging markets (seperti China, Rusia, Turki) meningkatkan kepemilikan emas sebagai alternatif.
- Investor global diversifikasi: Capital outflows dari aset AS ke emerging markets, didorong oleh suku bunga yang lebih tinggi di luar AS dan risiko geopolitik.
Meski demikian, dolar belum kehilangan status reserve currency secara mendadak. Analis TD Economics dan J.P. Morgan menilai penurunan ini masih gradual, tanpa alternatif yang kuat (seperti yuan China) yang siap menggantikan. Proyeksi untuk 2026: DXY berpotensi bergerak di range 92–98 atau 97–100, dengan bias downside 3–5% sepanjang tahun, meski ada kemungkinan rebound jika Fed menghentikan pemotongan suku bunga atau data ekonomi AS membaik.
Bagi Indonesia, pelemahan dolar bisa memberi angin segar bagi rupiah dan ekspor, tapi juga risiko inflasi impor jika tren berbalik. Investor disarankan waspada terhadap volatilitas mata uang dan mempertimbangkan hedging atau diversifikasi portofolio.
Apakah ini awal akhir dominasi dolar, atau hanya koreksi sementara? Pasar masih menunggu sinyal dari Fed, data inflasi AS, dan dinamika geopolitik global.
Sumber: CNBC Indonesia (6 Februari 2026), Investing.com, Reuters, deVere Group, Trading Economics, J.P. Morgan, dan laporan pasar keuangan terkini Februari 2026.





