Jakarta, 6 Maret 2026 – Ulama kharismatik Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya secara terbuka mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tugas memimpin negara bukanlah perkara ringan melainkan “berat” karena penuh tanggung jawab besar yang menyangkut nasib rakyat dan masa depan bangsa.

Ajakan ini disampaikan Buya Yahya kepada awak media usai mengikuti silaturahmi dan dialog Presiden Prabowo dengan lebih dari 160 kiai, ulama, serta tokoh ormas Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis malam (5/3/2026). Pertemuan yang sama juga membahas situasi konflik Timur Tengah dan isu Board of Peace (BoP) yang sedang menjadi perhatian publik.

“Yang terpenting doa. Karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak mendoakan pemimpin kita agar mereka bisa sukses menjalankan tugasnya,” ujar Buya Yahya.

Ia menambahkan bahwa doa masyarakat diharapkan membawa keberkahan: “Mendoakan agar beliau sukses, beliau berjaya, umat damai, rakyat bahagia.”

Mengapa Buya Yahya Menekankan “Jadi Presiden Berat”?

Buya Yahya, ulama asal Cirebon yang dikenal dengan pendekatan keagamaan yang moderat dan dekat dengan masyarakat, menjelaskan bahwa seorang presiden harus mengambil keputusan-keputusan strategis yang berdampak luas. Mulai dari kebijakan ekonomi, politik luar negeri, hingga menjaga stabilitas dalam negeri di tengah berbagai tantangan global seperti eskalasi konflik AS-Israel-Iran.

Dalam konteks ini, dukungan spiritual berupa doa menjadi “senjata utama” umat. Buya Yahya juga menyampaikan apa yang ia sebut “pesan cinta” kepada Presiden Prabowo, mengingatkan agar bulan Ramadan 2026 dijadikan momentum memperkuat nilai kebaikan, kedamaian, dan kebersamaan antarumat.

Konteks Acara Silaturahmi Istana

Pertemuan malam itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Presiden Prabowo menyempatkan diri berdialog langsung dengan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Mamah Dedeh, Habib Hanif Alatas, KH Cholil Nafis, hingga Buya Yahya sendiri. Acara berlangsung menjelang buka puasa bersama, menciptakan suasana kekeluargaan sekaligus strategis.

Buya Yahya termasuk di antara ulama yang aktif menyampaikan aspirasi masyarakat. Pernyataannya tentang doa ini menjadi penyeimbang di tengah desakan-desakan politik lain yang muncul dalam pertemuan yang sama, termasuk soal sikap Indonesia terhadap Board of Peace.

Nuansa Dukungan Spiritual di Tengah Tantangan Kepemimpinan

Pendekatan Buya Yahya mencerminkan tradisi Islam Indonesia yang kuat: pemimpin bukan hanya dibantu oleh kebijakan, tapi juga oleh doa umat. Di tengah tekanan domestik (isu ekonomi, inflasi, hingga politik luar negeri), doa dianggap sebagai bentuk ikhtiar tertinggi.

Nuansa ini semakin relevan karena pertemuan berlangsung di awal Ramadan. Banyak ulama melihat momen ini sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan pemerintah dengan umat Islam—kelompok yang selama ini menjadi basis dukungan utama Prabowo di Pilpres 2024.

Implikasi dan Skenario ke Depan

Ajakan doa Buya Yahya berpotensi memperkuat legitimasi spiritual kepemimpinan Prabowo di mata umat Muslim. Jika direspons positif, bisa menjadi energi positif bagi pemerintah dalam menghadapi berbagai isu krusial tahun 2026.

Implikasi positif:

  • Meningkatkan rasa persatuan nasional.
  • Memberi kekuatan moral bagi Prabowo saat mengambil keputusan sulit (contoh: evaluasi keikutsertaan di BoP).

Edge case yang perlu dicermati: Jika tantangan ekonomi atau konflik global semakin berat dan terasa langsung oleh rakyat, doa semata mungkin tidak cukup. Buya Yahya sendiri menekankan bahwa doa harus diikuti ikhtiar nyata dari pemerintah.

Sebaliknya, jika kebijakan Prabowo membawa hasil konkrit (penurunan harga sembako, kemajuan diplomasi Palestina), dukungan doa dari ulama seperti Buya Yahya akan semakin menguatkan citra pemerintah yang “direstui”.

“Umat damai, rakyat bahagia,” itulah harapan Buya Yahya yang kini menjadi tugas bersama.

NusantaraNetwork.com akan terus mengupdate perkembangan silaturahmi ulama dengan Presiden Prabowo serta dinamika Ramadan 2026. Pantau terus berita terkini seputar posisi Indonesia di kancah nasional dan global.