Jakarta – Harga bensin di Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan publik setelah rata-rata nasional tembus US$4,30 per galon.
Di tengah lonjakan tersebut, Presiden Donald Trump terus menyuarakan tuntutan agar harga minyak dunia segera turun, seraya berjanji bahwa situasi akan membaik drastis begitu konflik dengan Iran berakhir.
Menurut data terbaru dari AAA dan GasBuddy, harga bensin reguler di AS telah mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.
Beberapa wilayah bahkan melaporkan harga di atas US$4,30–4,41 per galon, dengan California mencapai lebih dari US$6 per galon. Kenaikan tajam ini dipicu oleh gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur transit sekitar 20 persen produksi minyak dunia.
Trump berulang kali menegaskan bahwa lonjakan harga hanyalah “blip sementara” (kenaikan sementara). Dalam berbagai pernyataan dan wawancara, ia mengatakan harga bensin akan “drop like a rock” (jatuh seperti batu) segera setelah perang dengan Iran usai. “Gas akan turun. Begitu perang selesai, harganya akan drop seperti batu,” ujar Trump baru-baru ini.
Ia bahkan membantah pandangan Menteri Energi Chris Wright yang memprediksi harga bensin sulit kembali di bawah US$3 per galon hingga 2027.
“Dia salah total,” kata Trump saat menanggapi proyeksi Departemen Energi AS yang memperkirakan harga bensin rata-rata di atas US$3,70 per galon sepanjang 2026, dengan puncak mencapai US$4,30 pada April.
Trump optimistis bahwa penyelesaian konflik akan membuka kembali pasokan minyak dan menurunkan harga secara cepat.
Latar Belakang Lonjakan Harga
Lonjakan harga minyak mentah (WTI dan Brent) yang sempat mendekati atau melampaui US$100–126 per barel menjadi pemicu utama. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu produksi dan pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Meski ada upaya pelepasan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve) dan waiver sementara Jones Act untuk memperlancar distribusi domestik, harga di pom bensin tetap tinggi.
Trump sendiri sempat mengakui bahwa masyarakat Amerika mungkin harus “membayar lebih mahal untuk sementara waktu” (for a little while). Namun, ia juga menyatakan keyakinan bahwa harga bisa tetap stabil atau bahkan sedikit naik hingga pemilu paruh waktu (midterm) November 2026, sebelum akhirnya turun signifikan pasca-perang.
Kenaikan harga bensin ini menuai kritik dari pihak oposisi yang menyalahkan kebijakan luar negeri Trump sebagai penyebab utama beban ekonomi masyarakat. Rata-rata rumah tangga AS disebut mengeluarkan tambahan puluhan hingga ratusan dolar per bulan untuk bahan bakar, yang berdampak pada inflasi dan daya beli secara luas.
Di sisi lain, pendukung Trump menekankan bahwa sebelum konflik, pemerintahannya telah berhasil menekan harga energi melalui kebijakan “energy dominance” dengan produksi minyak domestik yang tinggi. Mereka berargumen bahwa kenaikan saat ini bersifat geopolitik dan bukan karena kegagalan kebijakan dalam negeri.
Dampak Global dan Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia tentu berdampak ke Indonesia sebagai negara importir neto minyak. Harga minyak mentah yang tinggi berpotensi menekan subsidi BBM dalam APBN dan memengaruhi inflasi domestik. Analis energi memantau perkembangan Selat Hormuz dengan ketat, karena gangguan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak lebih tinggi lagi.
Trump terus menekankan bahwa Amerika akan keluar lebih kuat dari krisis ini dengan produksi energi domestik yang lebih besar dan ketergantungan lebih rendah pada pasokan Timur Tengah di masa depan.





