Jakarta – Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, kali ini dirayakan di bawah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi.

Meski pemerintah optimistis dengan target pertumbuhan 5,4 persen, sejumlah pakar memperingatkan risiko perlambatan bahkan resesi di semester II 2026.

Bagi kelas menengah dan pekerja, Lebaran tahun ini bukan lagi momen pesta semata, melainkan ujian ketahanan finansial di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya mudik yang membengkak, dan daya beli yang tergerus.

Menurut data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini diproyeksikan turun tipis 1,7 persen menjadi sekitar 143,9 juta orang dari 146,4 juta pada 2025. Penurunan ini bukan karena kurangnya kerinduan, melainkan akibat tekanan biaya hidup yang semakin berat. Perputaran uang selama Lebaran diperkirakan mencapai Rp148 triliun, namun ekonom menyebut geliat konsumsi kali ini lebih lesu dibanding tahun sebelumnya.

Kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi domestik kini menghadapi dilema. Banyak yang beralih menggunakan pinjaman online jangka pendek untuk membiayai THR, mudik, dan belanja Lebaran. Fenomena ini mencerminkan pergeseran perilaku keuangan yang mengkhawatirkan.

Ekonom dan pakar kebijakan publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menggambarkan situasi ini dengan tajam.

“Akumulasi tekanan ini menjelaskan satu gejala baru yang sangat mengkhawatirkan, yaitu pergeseran kelas menengah dari makan tabungan menjadi makan utang.”

Ia menambahkan, “Lebaran 2026 memperlihatkan satu kenyataan pahit. Rakyat tidak sedang menghadapi satu pukulan besar, melainkan banyak tusukan kecil yang datang bersamaan.”

Tekanan berasal dari inflasi yang mencapai 4,76 persen, pelemahan rupiah hingga Rp16.879 per USD, serta diskon transportasi mudik yang dinilai hanya membantu segelintir orang dengan fleksibilitas waktu dan informasi memadai.

Pekerja: PHK, Upah Riil Turun, Konsumsi Dasar Prioritas

Bagi kalangan pekerja, terutama pekerja informal, buruh harian, dan pegawai kontrak, situasi lebih berat. Upah riil mengalami kontraksi sepanjang 2025, sementara ancaman PHK dan informalisasi pekerjaan semakin nyata. Prioritas pengeluaran kini hanya untuk kebutuhan dasar, sehingga belanja Lebaran dan mudik menjadi korban pertama.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan, bahwa masyarakat dengan pengeluaran Rp4 juta ke bawah, daya belinya memang masih turun, dan dari sisi upah pekerja secara riil itu mengalami kontraksi di tahun 2025. “Kondisinya belum banyak membaik untuk kelas kalangan menengah ke bawah, walaupun di kalangan menengah atas sepertinya sudah lebih bagus konsumsinya.”

Ekonom CORE Indonesia lainnya, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok membuat rumah tangga memangkas pengeluaran non-wajib.

“Ketika harga kebutuhan pokok naik, rumah tangga biasanya akan memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan kebutuhan harian. Dalam situasi seperti itu, pengeluaran yang sifatnya tidak wajib, termasuk perjalanan mudik, sering kali menjadi pos yang dikurangi atau ditunda.”

Pakar Ekonomi: Risiko Resesi Mengintai, Konsumsi Rumah Tangga Kunci.

Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, memperingatkan potensi penurunan tajam pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih kisaran 5 persen, tapi berisiko turun hingga kisaran 2,5 persen. Penyebabnya antara lain karena konsumsi rumah tangga terus menurun, terutama disebabkan oleh pendapatan pekerja yang menurun seiring dengan meningkatnya PHK dan informalisasi pekerjaan.”

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimistis. Ia menyatakan risiko resesi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, China, dan Jepang, dengan ketahanan ekonomi yang didukung konsumsi domestik dan paket kebijakan pemerintah.

Momentum Lebaran 2026 sendiri diproyeksikan menjadi “penyangga” (buffer) pertumbuhan kuartal I, dengan perputaran uang tunai yang mencapai Rp190 triliun menurut proyeksi Bank Indonesia.

Namun, para ekonom mengingatkan bahwa efek positif ini bersifat sementara. Tantangan sesungguhnya baru akan terasa pasca-Lebaran jika tekanan global dan domestik tidak diatasi.

Lebaran 2026 menjadi pengingat bahwa ekonomi Indonesia memang resilien, tetapi ketahanan rumah tangga—khususnya kelas menengah dan pekerja—sudah di ambang batas. Pemerintah diharapkan tidak hanya mengandalkan momentum Lebaran, melainkan memperkuat jaring pengaman sosial, menjaga stabilitas harga pangan, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Bagi masyarakat, Lebaran tahun ini mengajarkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan yang lebih bermakna. Di tengah bayang-bayang resesi, silaturahmi dan doa tetap menjadi kekuatan utama yang tak tergantikan rupiah sekalipun.