Padang-Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, M Shadiq Pasadigoe, menyampaikan keprihatinannya terhadap berbagai fenomena perilaku generasi muda di Sumatra Barat yang berkembang di media sosial, mulai dari penyimpangan nilai hingga kecenderungan mengikuti arus global tanpa filter yang kuat.

Hal tersebut disampaikan Shadiq saat menerima aspirasi sejumlah tokoh pemuda dan mahasiswa di Padang, Sumatra Barat, Jumat (1/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, ia menekankan pentingnya mengembalikan jati diri Minangkabau sebagai tanah yang melahirkan kekuatan berpikir kritis dan berakar pada nilai adat serta agama.

Dalam narasi reflektifnya yang berjudul ‘Minangkabau: Rahim Para Pemberontak Pikiran’,  Shadiq menyebut bahwa Minangkabau bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang kesadaran yang melahirkan kegelisahan intelektual.

“Minangkabau bukan hanya melahirkan manusia, tetapi juga melahirkan pikiran-pikiran yang tidak pernah puas dengan jawaban yang tersedia. Pikiran yang berani bertanya, bahkan ketika dunia meminta diam,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Minangkabau, akal tidak diajarkan untuk tunduk, melainkan untuk menimbang. Tradisi tidak boleh diterima secara membuta, tetapi harus diuji dengan nalar dan iman, sebagaimana pernah diingatkan oleh Buya Hamka bahwa “kemerdekaan berpikir adalah bagian dari kemerdekaan manusia.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa generasi muda Minangkabau memiliki warisan intelektual yang kuat, di mana sejak dahulu surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang dialektika dan pembentukan cara berpikir.

Mengutip Taufik Ismail, ia menyampaikan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan keberanian untuk mengoreksi dirinya sendiri.”

Menurutnya, semangat inilah yang mulai melemah di tengah derasnya arus informasi saat ini.

Legislator NasDem dari Dapil Sumatra Barat I itu juga menyinggung fenomena media sosial yang kerap membentuk pola pikir instan dan dangkal. Ia mengingatkan bahwa banyak generasi muda lebih sibuk berekspresi daripada memahami substansi.

Sejalan dengan pandangan Albert Einstein yang menyatakan ‘the important thing is not to stop questioning’, ia menilai bahwa budaya bertanya dan berpikir kritis harus kembali dihidupkan.

“Masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan kedalaman dalam memahami,” ujarnya, mengutip refleksi pemikir kontemporer Aburizal Kamarullah.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan refleksi personal tentang didikan keluarganya. Ia mengaku dibesarkan oleh seorang ayah yang merupakan ulama dan pakiah saliah, yang mendidiknya dengan ketegasan dalam memegang kebenaran.

“Didikan itu keras dalam prinsip, tetapi itulah yang membentuk keberanian untuk berpikir dan tidak tunduk pada hal yang keliru,” katanya.

Lebih lanjut, anggota Komisi XIII DPR RI itu menegaskan bahwa Minangkabau memiliki filosofi kuat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang seharusnya menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk pengaruh budaya global yang tidak selalu sejalan dengan nilai lokal.

Mengutip Socrates, ia mengingatkan bahwa “the unexamined life is not worth living,” sehingga generasi muda perlu membiasakan diri untuk berpikir, mengkaji, dan mempertanyakan.

Ia pun juga mengutip Friedrich Nietzsche bahwa “he who has a why to live can bear almost any how,” sebagai pengingat pentingnya arah dan tujuan hidup yang jelas.

Di akhir penyampaiannya, M. Shadiq Pasadigoe menegaskan bahwa Minangkabau harus kembali menjadi rahim yang melahirkan pemberontak pikiran—yakni generasi yang berani berpikir, berani meragukan, dan berani memperjuangkan kebenaran.

“Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang patuh tanpa berpikir, tetapi oleh mereka yang berani menggugat untuk menemukan kebenaran,” tutupnya.