Kediri – Berdasarkan tren perjalanan umroh di Jawa Timur, sebagian besar keberangkatan masih terpusat melalui bandara di kota-kota besar, seperti Surabaya.

Hal yang sama juga terjadi pada calon jamaah umroh dari kawasan lingkar Wilis, meliputi Kediri, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, hingga Trenggalek. Jamaah harus menempuh perjalanan darat berjam-jam dahulu untuk tiba di Surabaya, baru melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci atau transit terlebih dahulu di satu-dua kota atau negara.

Kondisi ini tidak hanya menambah waktu tempuh, tetapi juga meningkatkan kelelahan, terutama bagi jamaah lanjut usia.

Apalagi fisik selama umroh yang suhunya begitu tinggi dan perjalanan kaki yang cukup jauh sudah menjadi tantangan utama bagi mereka.

Tetapi dengan adanya pembangunan infrastruktur dan transportasi yang berkesinambungan, kini akses perjalanan ibadah umroh bisa semakin dekat bagi masyarakat wilayah selatan Jawa Timur.

Dhoho International Airport menjadi tonggak baru dalam mempermudah perjalanan jamaah tanpa harus melalui perjalanan darat menuju kota besar seperti Surabaya atau Jakarta dahulu.

Poppy Finalia, Marketing Communication Dhoho International Airport, menjelaskan perubahan paling signifikan adalah dari sisi kemudahan akses dan efisiensi waktu.

“Jamaah tidak lagi perlu menempuh perjalanan darat berjam-jam sebelum terbang, sehingga perjalanan ibadah menjadi lebih nyaman,” jelas Poppy.

“Selain itu, pengalaman keberangkatan yang lebih dekat dengan domisili juga memberikan rasa tenang dan nyaman, baik bagi jamaah maupun keluarga yang mengantar,” lanjutnya.

Hadirnya Dhoho International Airport sebagai salah satu pintu keberangkatan umroh di Indonesia ini mendapat sambutan hangat oleh Kementerian Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf. Dalam peninjauannya secara langsung pada Desember 2025 lalu, ia menekankan komitmen pemerintah dalam memperkuat tata kelola serta ekosistem penyelenggaraan Haji dan Umroh.

“Bandara Dhoho memiliki potensi besar untuk menjadi hub penting bagi pasar umroh Jawa Timur yang terus tumbuh. Ini peluang besar untuk menghadirkan layanan keberangkatan yang lebih dekat, mudah, dan efisien bagi masyarakat,” ujar Irfan.

Setiap tahunnya, Indonesia memberangkatkan sekitar 1,5 juta jamaah umroh. Tingginya kebutuhan pasar akan ini membutuhkan konektivitas udara yang efisien, kolaborasi erat dengan berbagai pemangku kepentingan, serta solusi inovatif untuk menjawab kebutuhan layanan yang terus dinamis.

Sejalan dengan visi tersebut, Poppy juga menambahkan, “Wilayah lingkar Wilis memiliki potensi yang sangat besar sebagai pasar umroh, didukung oleh jumlah populasi yang besar serta karakter masyarakat yang religius. Selain Kediri, wilayah seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Nganjuk, hingga Ponorogo menjadi catchment area yang sangat potensial. Dengan akses yang lebih dekat, kami optimistis minat masyarakat untuk berangkat umroh dari Bandara Dhoho akan terus meningkat.”

Transformasi ini juga diharapkan dapat mendorong berkembangnya agen-agen travel umroh lokal, sekaligus memperkuat ekosistem industri perjalanan religi di daerah. Dengan meningkatnya potensi pasar dari wilayah lingkar Wilis, kolaborasi antar pelaku industri menjadi semakin penting untuk memastikan kualitas layanan yang optimal bagi jamaah.

Seiring dengan berkembangnya potensi tersebut, sejumlah pelaku industri mulai melihat peluang untuk menghadirkan layanan yang lebih dekat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa travel agent mulai melirik peluang ekspansi menggiurkan ini, mengingat pesaing yang belum terlalu banyak.

Peluang ini turut dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk PT Capital Abadi Jaya, yang mulai mengembangkan inisiatif kolaborasi dengan travel agent di wilayah Jawa Timur. Potensi pertumbuhan dari wilayah lingkar Wilis ini bagi mereka adalah solusi umroh yang lebih dekat, efisien, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah yang selama ini bergantung pada keberangkatan dari kota besar.

“Kami melihat adanya perubahan kebutuhan jamaah—mereka menginginkan perjalanan yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga dimulai dari titik yang lebih dekat dengan domisili mereka,” ujar staff manager dari PT Capital Abadi Jaya.

Keberlangsungan pintu gerbang umroh dari Kediri ini diproyeksikan tidak berhenti pada layanan umroh saja. Poppy juga menjelaskan perencanaan jangka panjang juga akan meliputi titik awal keberangkatan haji. “Kami juga berharap Bandara Dhoho dapat terpilih sebagai salah satu embarkasi keberangkatan haji, sehingga dapat memberikan kemudahan yang lebih luas bagi jamaah haji, khususnya dari wilayah selatan Jawa Timur. Dengan demikian, tidak hanya meningkatkan kenyamanan jamaah, tetapi juga memperkuat peran Bandara Dhoho sebagai pintu gerbang baru mobilitas ibadah dan pertumbuhan ekonomi kawasan,” tutup Poppy.