Jakarta – Album Kebangsaan “10 Windu Indonesia: Sebuah Karya Kebangsaan untuk Indonesia” yang dirilis pada 2025 menjadi salah satu inisiatif paling menarik di ranah musik kebangsaan belakangan ini. Diprakarsai oleh Ahmad Doli Kurnia Tandjung—seorang politisi, aktivis, dan pecinta musik—album ini melibatkan kolaborasi lintas generasi antara musisi senior dan talenta muda untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme melalui aransemen kontemporer.

Latar Belakang dan Motivasi Ahmad Doli

Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengungkapkan bahwa ide album ini bermula dari kegelisahan pribadinya melihat banyak pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat yang tidak hafal atau kurang menghayati Indonesia Raya dan lagu-lagu kebangsaan lainnya. “Di era digital ini, anak muda tumbuh dengan informasi yang sangat cepat, tapi nilai-nilai kebangsaan sering terasa kuno atau kurang relevan. Kita perlu bahasa yang mereka pahami: musik modern,” ujar Doli dalam wawancara pasca-peluncuran.

Melalui komunitas Sinergy for Indonesia yang didirikannya, Doli mengajak musisi untuk menggarap ulang lagu-lagu patriotik dengan genre kekinian seperti rock, reggae, ska, pop alternatif, hingga sentuhan etnik. Tujuannya sederhana: membuat lagu kebangsaan “hidup kembali” dan mudah diingat serta dinyanyikan oleh generasi Z dan milenial.

Perjalanan Trilogi Album

Album “10 Windu Indonesia” merupakan bagian ketiga dari trilogi karya kebangsaan Sinergy for Indonesia:

  1. Nyanyian Rumah Indonesia (2019) – Fokus pada lagu-lagu wajib nasional dengan aransemen segar.
  2. Nyanyian Anak Negeri – Pusaka Nusantara (2023) – Menonjolkan kekayaan budaya daerah melalui lagu daerah yang diaransemen ulang.
  3. 10 Windu Indonesia (2025) – Dirilis khusus memperingati 80 tahun kemerdekaan (10 windu = 80 tahun), dengan tema besar persatuan, bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia, dan harapan masa depan bangsa.

Kolaborasi Musisi yang Beragam

Album ini melibatkan puluhan musisi dari berbagai latar belakang dan generasi. Beberapa nama yang terlibat dan disebut dalam materi peluncuran tersebut antara lain:

  • Pay Burman (musisi senior legendaris yang turut berkontribusi aransemen dan vokal)
  • Musisi muda dan kontemporer seperti: BIP Band, Dul Jaelani, Shanna Shannon, Irang Arkad, Rannie Kalis, Lobow, Agushafi, Dimas Senopati, Micky Idol, Conrad GV, Shandi Canester, Nowela Idol, J-Rock Band dan kawan-kawan musisi lainnya

Dalam acara peluncuran, terlihat kehadiran figur seperti presenter dan aktor kenamaan serta penyanyi muda yang membawa energi segar. Kolaborasi ini sengaja dirancang untuk menjembatani gap generasi: musisi senior memberikan kedalaman makna, sementara talenta muda membawa nuansa kekinian yang relatable.

Makna “10 Windu” dan Bahasa Indonesia

Salah satu poin yang ditekankan Doli adalah pemilihan judul “10 Windu Indonesia”. Kata “windu” (periode 8 tahun dalam bahasa Jawa dan Sunda) dipilih untuk menyegarkan kembali kekayaan bahasa Indonesia yang kaya akan serapan dan istilah lokal. “Kita ingin mengingatkan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya bahasa sehari-hari, tapi bahasa dunia yang punya kedalaman dan sejarah,” kata Doli.

Rencana Distribusi dan Dampak

Album ini tidak hanya dirilis dalam format audio, tapi juga akan diproduksi menjadi video dokumenter yang menceritakan proses kreatif, makna lirik, dan semangat di balik setiap lagu. Rencananya akan tayang di platform digital seperti YouTube, Spotify, dan media sosial resmi Sinergy for Indonesia.

Doli berharap album ini menjadi gerakan, bukan sekadar produk musik. “Kita ingin anak muda tidak hanya dengar, tapi juga nyanyi, pahami, dan hidupkan nilai-nilai ke-Indonesiaan dalam keseharian mereka,” tutupnya.

Di tengah maraknya musik komersial yang kadang kurang bermakna, kehadiran “10 Windu Indonesia” menjadi pengingat bahwa seni—khususnya musik—masih bisa menjadi alat ampuh untuk pendidikan karakter dan nasionalisme. Generasi muda tampaknya mulai mengambil peran besar dalam merawat identitas bangsa lewat cara mereka sendiri: nada dan lirik yang kekinian.