Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan alokasi dana operasional untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang cukup fantastis. Kepala BGN Dadan Hindayana bilang, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—atau dapur MBG—menerima sekitar Rp500 juta per hari untuk menjalankan program ini.

Pernyataan ini disampaikan Dadan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/2/2026). Ia menjelaskan bahwa pola penyaluran dana MBG tahun ini berbeda dari biasanya: 93 persen anggaran langsung dikirim ke SPPG tanpa lewat pemerintah daerah (pemda). “BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93 persen dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp268 triliun, kurang lebih Rp240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke, dan setiap hari setiap SPPG menerima Rp500 juta,” ujar Dadan.

Menurut Dadan, model ini jadi terobosan baru karena tidak ada satu rupiah pun yang lewat pemda—semuanya langsung ke 24.122 dapur MBG di seluruh Indonesia. Tujuannya? Menggerakkan ekonomi daerah lewat peredaran uang langsung ke penyedia makanan, supplier bahan lokal, dan pekerja di dapur. “Saya kira ini adalah model baru, tidak ada satu rupiah pun uang yang disalurkan dari pusat ke daerah,” tambahnya.

Program MBG sendiri punya anggaran jumbo Rp268 triliun untuk 2026, naik dari tahun sebelumnya. Dana ini dipakai untuk sediakan makanan bergizi buat siswa PAUD sampai SMA/SMK, plus ibu hamil dan menyusui. Tapi, alokasi per hari ini langsung bikin heboh—banyak yang tanya, apakah ini efisien atau justru rawan penyimpangan?

Beberapa pihak mempertanyakan hitung-hitungan ini. Kalau setiap SPPG dapat Rp500 juta per hari, dengan 24.122 SPPG, total per hari capai Rp12 triliun lebih. Per tahun, angkanya bisa melebihi anggaran total—meski BGN bilang ini bagian dari stimulus ekonomi. Ada juga yang sebut ini mungkin kesalahan komunikasi, karena satu sumber bilang Rp500 juta setiap 12 hari.

Hingga kini, belum ada klarifikasi lebih lanjut dari BGN soal detail hitungan. Namun, Dadan yakin pola ini bakal dorong perekonomian lokal dan tekan stunting secara efektif.

Masyarakat dan pengamat diimbau awasi penyaluran dana ini, apalagi MBG sering dikritik soal pemborosan makanan terbuang. Kalau beneran transparan, bisa jadi booster ekonomi desa nih!