Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah signifikan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda bahkan menembus level psikologis baru Rp17.700 per US$.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.13 WIB, rupiah tercatat melemah 0,34% ke level Rp17.700 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah yang telah berlangsung beberapa hari terakhir.

Pada perdagangan Senin kemarin, rupiah sempat menyentuh level Rp17.700, disertai tekanan jual yang kuat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 4% sepanjang sesi.

Analis menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari luar negeri, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia melambung di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi ini memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.

Sementara dari dalam negeri, derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan kekhawatiran investor terhadap beban subsidi energi menjadi pemicu utama.

Beberapa analis memperingatkan, jika tekanan berlanjut, rupiah berpotensi menuju level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Bank Indonesia (BI) disebut telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas. Namun, hingga saat ini tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.

Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan biaya impor, inflasi barang-barang konsumsi, serta beban pembayaran utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta. Di sisi lain, pelaku usaha ekspor komoditas mendapat keuntungan dari nilai tukar yang lebih rendah.

Pasar kini menanti langkah lebih konkret dari pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global yang semakin tidak menentu.