Jakarta – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia terus memantau pergerakan harga bahan pokok di tingkat pedagang eceran.
Berdasarkan pantauan data terbaru sekitar pertengahan Mei 2026 (data resmi situs PIHPS hingga 15 Mei 2026, dengan update harian biasanya dirilis pagi hari), beberapa komoditas strategis masih menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, sementara sebagian lainnya stabil atau mengalami penurunan.
Komoditas yang Mengalami Kenaikan
Menurut data PIHPS yang kerap dikutip media nasional, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menjadi penyumbang utama kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir:
– Cabai Rawit Merah: Sempat mencapai level tinggi Rp74.000–Rp78.500 per kg (data sekitar 13 Mei 2026). Beberapa pantauan menunjukkan fluktuasi di kisaran Rp70.000-an per kg.
– Cabai Merah Besar dan Keriting: Cabai merah besar sempat tembus Rp88.650/kg dengan kenaikan tajam (sekitar 72% dalam periode tertentu), cabai keriting di kisaran Rp67.400/kg.
– Bawang Merah Ukuran Sedang: Rp70.150/kg dengan lonjakan signifikan.
– Bawang Putih: Rp54.650/kg.
– Daging Ayam Ras Segar dan Telur Ayam Ras: Mengalami kenaikan di berbagai periode, dengan telur sempat di Rp33.950–Rp41.850/kg dan daging ayam di kisaran Rp44.000-an per kg.
Beras juga menunjukkan pergerakan naik di awal dan pertengahan Mei, dengan kualitas bawah I/II di kisaran Rp15.000–Rp17.000-an per kg tergantung kualitas dan wilayah, meski ada variasi penurunan di beberapa hari.
Komoditas yang Turun atau Stabil
Beberapa komoditas mengalami koreksi harga:
– Cabai rawit hijau dan beberapa varian cabai merah sempat turun cukup dalam di periode sebelumnya (bisa mencapai dua digit persen).
– Minyak goreng curah dan kemasan serta gula pasir menunjukkan pergerakan campuran, dengan sebagian stabil atau sedikit turun.
– Daging sapi kualitas I/II relatif tinggi tetapi fluktuatif di kisaran Rp145.000–Rp151.000 per kg.
Pergerakan ini bersifat dinamis dan dapat berbeda antar daerah serta pasar tradisional vs modern.
Kenaikan harga cabai, bawang, dan protein hewani (telur, ayam) sangat dirasakan masyarakat karena komoditas ini merupakan bumbu dan lauk wajib sehari-hari. Bagi rumah tangga kelas menengah ke bawah, peningkatan ini dapat meningkatkan pengeluaran bulanan untuk pangan hingga 10-20% tergantung pola konsumsi, sehingga menggerus daya beli.
Inflasi pangan yang tinggi berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, terutama di daerah urban seperti Jawa di mana ketergantungan pada pasar tradisional tinggi. Di sisi lain, penurunan harga pada beberapa komoditas seperti cabai rawit hijau memberikan sedikit ruang bernapas bagi konsumen.
Pemerintah dan Bank Indonesia melalui PIHPS terus memantau pasokan untuk menjaga stabilitas. Masyarakat diimbau memantau harga terkini melalui situs resmihttps://www.bi.go.id/hargapangan atau aplikasi PIHPS Nasional sebelum berbelanja, serta memilih substitusi komoditas yang lebih terjangkau.





