Nganjuk – Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah pidatonya yang santai namun kontroversial di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). Saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan operasionalisasi ribuan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Prabowo menanggapi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dengan pernyataan: “Orang desa gak pakai dollar kok.”
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar. Yang pusing yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo disambut tawa hadirin, sambil menyebut pangan dan energi nasional masih aman. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran luas atas kondisi ekonomi nasional yang tengah diuji.
IHSG Ambruk Menuju Level 6800 dan Kaburnya Investor Asing
Pasar keuangan Indonesia belakangan ini mengalami tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami fluktuasi tajam dan mendekati level-level krusial di kisaran 6800-7000 poin di tengah outflow modal asing yang signifikan. Sepanjang periode awal 2026, IHSG tercatat anjlok hingga belasan persen dari puncaknya, dengan net sell asing mencapai triliunan rupiah.
Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp17.000-an per dolar AS turut memperburuk sentimen. Investor asing tampak kehilangan kepercayaan terhadap prospek jangka pendek ekonomi Indonesia, meskipun beberapa laporan menyebut fundamental jangka panjang masih dianggap resilien oleh sebagian pihak.
Faktor eksternal seperti suku bunga global yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik menjadi pemicu utama kaburnya dana asing.
Ancaman Resesi Global Mengintai Ekonomi RI
Di tingkat global, ancaman resesi semakin nyata. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi China dan Eropa, serta volatilitas harga komoditas energi turut menekan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI pada 2026 sempat direvisi ke bawah oleh beberapa lembaga internasional, mendekati kisaran 4,7-5 persen di tengah risiko inflasi impor dan penurunan daya beli.
Pemerintah Prabowo menekankan ketahanan pangan dan energi sebagai benteng utama. Program koperasi desa dan berbagai inisiatif hilirisasi serta swasembada diharapkan menjadi penyangga ekonomi kerakyatan. Namun, kritik muncul bahwa pernyataan “orang desa tidak pakai dollar” dinilai terlalu simplistis, karena inflasi barang impor (pupuk, bahan bakar, pakan ternak) tetap berdampak tidak langsung ke masyarakat pedesaan melalui rantai pasok.
Meski pasar modal lesu, pemerintah optimistis dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen. Prabowo berulang kali menyerukan loyalitas elite dan pemimpin terhadap kepentingan nasional, serta mendorong investasi domestik melalui koperasi desa.
Ekonom menilai Indonesia masih memiliki ruang untuk mitigasi risiko melalui cadangan devisa, disiplin fiskal, dan diversifikasi pasar ekspor. Namun, kepercayaan investor asing perlu segera dipulihkan melalui kebijakan yang kredibel, transparan, dan berorientasi pada stabilitas makroekonomi.
Pidato Prabowo di Nganjuk mencerminkan pendekatan populis yang menenangkan basis massa pedesaan. Di sisi lain, tantangan pasar modal dan kepercayaan investor global menuntut langkah konkret dan komunikasi yang lebih komprehensif dari pemerintah. Ketahanan ekonomi nasional akan diuji di semester kedua 2026, di mana kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan pelaku pasar menjadi kunci utama.





