Jakarta – Kematian Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam serangan udara presisi Israel pada 17 Maret 2026 semakin memanaskan konflik langsung antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Larijani bukan sembarang pejabat; ia sempat menjadi pemimpin de facto Iran selama sepuluh hari pertama perang setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas pada hari pertama serangan (28 Februari 2026). Kini, dengan puluhan petinggi senior Iran sudah gugur, muncul pertanyaan besar: apakah Iran akan runtuh atau justru semakin ganas membalas?
Konflik yang meletus sejak akhir Februari 2026 ini bukan lagi sekadar perang proksi. Iran selama ini mengandalkan strategi “poros perlawanan” (axis of resistance) melalui kelompok-kelompok sekutu seperti Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Irak-Suriah untuk menekan Israel tanpa perang terbuka. Namun sejak Israel dan AS melancarkan serangan langsung ke wilayah Iran, termasuk pembunuhan Khamenei dan belasan komandan IRGC, Iran terpaksa terjun ke konfrontasi frontal dengan rudal balistik dan drone.
Serangan Israel yang menewaskan Larijani (beserta komandan Basij Gholamreza Soleimani) terjadi di dekat Tehran. Israel mengklaim ini “precise strike” untuk melemahkan pusat pengambilan keputusan Iran. Iran langsung mengonfirmasi kematiannya melalui media pemerintah dan membalas dengan serangan rudal kluster ke Tel Aviv serta puluhan target lain di Israel.
Sebelum tewas, Larijani sendiri sempat memberikan peringatan keras kepada AS dan Israel: membunuh pemimpin Iran justru akan memperkuat semangat perlawanan rakyat dan rezim. Pesan itu kini terbukti menjadi ramalan. Iran langsung melancarkan serangan balasan masif, menunjukkan bahwa hilangnya satu atau dua tokoh senior tidak langsung melumpuhkan mesin perang Teheran.
Lalu, akankah Iran kalah atau justru makin ngamuk?
Banyak analis menilai Iran cenderung semakin agresif. Hilangnya Larijani – yang dikenal sebagai konservatif moderat sekaligus teknokrat berpengalaman – justru membuka jalan bagi faksi garis keras IRGC untuk mengambil kendali lebih besar. Presiden Masoud Pezeshkian sudah memberikan kewenangan luas kepada angkatan bersenjata untuk bertindak mandiri jika kepemimpinan pusat terganggu. Artinya, respons militer Iran bisa semakin cepat dan tak terduga.
Di sisi lain, tekanan internal juga meningkat: ekonomi Iran terpukul sanksi dan perang, kerusuhan dalam negeri sempat meletus, dan program nuklir terhenti. Namun, sistem pemerintahan Iran yang terdesentralisasi dan jaringan proxy yang masih utuh membuat rezim sulit dihancurkan hanya dengan “decapitation strikes” (pembunuhan pemimpin).
Pengamat Timur Tengah dari Johns Hopkins University, Vali Nasr, menegaskan bahwa Iran masih memiliki nafas panjang untuk perang berkepanjangan. “Ini adalah tanda peringatan bahwa meskipun telah terjadi pemenggalan kepemimpinan negara, pembunuhan pemimpin tertinggi, dan komandan Pengawal Revolusi, rezim Iran memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus berperang dalam jangka panjang dan bahwa tekanan justru ada pada Amerika Serikat, bukan pada mereka,” ujar Nasr dalam analisis terbaru.
Nasr menambahkan bahwa strategi Iran yang mengandalkan perang asimetris, rudal presisi, dan kemampuan menutup Selat Hormuz (jalur minyak dunia) membuat Washington dan Tel Aviv yang justru berada di bawah tekanan waktu. Intelijen AS sendiri dilaporkan menyimpulkan bahwa “rezim Iran masih kuat, tidak ada tanda mau jatuh” meski sudah dibombardir habis-habisan.
Sementara itu, Israel dan AS berharap pembunuhan berantai ini akan memaksa Iran ke meja perundingan atau memicu keruntuhan internal. Namun hingga kini, respons Iran justru menunjukkan sebaliknya: semakin ngamuk dan siap perang panjang.
Perang ini masih jauh dari akhir. Dengan Mojtaba Khamenei (putra mendiang Pemimpin Tertinggi) yang kini naik sebagai kandidat kuat pengganti, ditambah IRGC yang semakin dominan, Iran tampaknya siap melanjutkan perlawanan tanpa kompromi. Yang pasti, setiap tewasnya petinggi Iran bukan akhir, melainkan babak baru yang berpotensi membuat konflik Timur Tengah semakin tak terkendali.





