Gaza – NusantaraNetwork.com – Ribuan warga Gaza menjalani Idulfitri 1447 H dengan air mata dan nestapa yang mendalam. Bukan hanya dikelilingi puing-puing rumah dan masjid yang hancur akibat agresi Israel, mereka juga kehilangan hak suci untuk melaksanakan Shalat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa, situs suci ketiga umat Islam yang kini ditutup total oleh otoritas Israel.

Penutupan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 ini terus berlanjut hingga hari raya Idulfitri Jumat (20/3/2026) dan diprediksi masih akan berlangsung setelahnya. Otoritas Israel beralasan penutupan ini demi “keamanan” terkait perang AS-Israel melawan Iran. Akibatnya, untuk pertama kalinya sejak pendudukan Yerusalem Timur tahun 1967, shalat Idulfitri tidak boleh digelar di dalam kompleks Al-Aqsa.

Ratusan warga Palestina di Yerusalem yang mencoba mendekat ke gerbang Kota Tua terpaksa shalat di pinggir jalan dan trotoar. Pasukan Israel bahkan membarikade akses dan menyemprot gas air mata untuk membubarkan jemaah. Sementara itu, hanya segelintir staf Islamic Waqf yang diizinkan masuk dengan pembatasan sangat ketat.

Bagi warga Gaza, penderitaan ini terasa jauh lebih berat. Blokade Israel yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat mereka mustahil bepergian ke Yerusalem. Kini, dengan Al-Aqsa ditutup, mimpi beribadah di tempat suci tersebut lenyap total. Di tengah reruntuhan Gaza yang hancur lebur, warga hanya bisa melaksanakan shalat Idulfitri di halaman rumah yang roboh, di tengah jalan berdebu, atau di puing-puing masjid yang dibom.

“Di Gaza, Idulfitri tiba bukan dengan kegembiraan, melainkan di antara puing dan luka yang belum sembuh,” tulis salah satu laporan media Palestina yang menggambarkan suasana pilu di jalur tersebut.

Penutupan ini dikecam keras oleh banyak pihak. Jerusalem Governorate menyebut langkah Israel sebagai “eskalasi berbahaya dan upaya yahudisasi atas situs suci umat Islam”. Delapan negara Arab dan Islam termasuk Indonesia, Qatar, Yordania, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab juga mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut penutupan Al-Aqsa sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan status quo historis”.

Sementara itu, Islamic Movement di wilayah 1948 Palestina menyerukan umat Muslim untuk tetap berkumpul di sekitar gerbang Al-Aqsa meski ditutup, agar suara perlawanan tetap terdengar.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanda-tanda otoritas Israel akan membuka kembali Masjid Al-Aqsa dalam waktu dekat. Warga Gaza dan seluruh Palestina terus menanti hari di mana mereka bisa kembali bertakbir dan sujud di haram suci tanpa rasa takut dan nestapa.

NusantaraNetwork.com akan terus mengupdate perkembangan situasi di Gaza dan Al-Aqsa. Semoga perdamaian segera tercipta dan umat Islam dapat kembali melaksanakan ibadah dengan tenang di tempat suci mereka.