Jakarta– Raksasa teknologi Meta Platforms Inc., induk perusahaan Facebook, Instagram, dan WhatsApp, kembali melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Kali ini, perusahaan milik Mark Zuckerberg itu memangkas sekitar 10% tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 karyawan untuk mendukung ambisi besar di bidang kecerdasan buatan (AI).

Menurut memo internal yang disebarkan kepada karyawan pada akhir April 2026, PHK mulai dilakukan pada 20 Mei 2026. Selain memotong 8.000 posisi tetap, Meta juga membatalkan ribuan lowongan kerja yang sebelumnya direncanakan untuk diisi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran agar perusahaan lebih ramping dan gesit menghadapi persaingan di era AI.

Alasan Utama: Efisiensi dan Taruhan Besar di AI

Dalam memo tersebut, Chief People Officer Meta Janelle Gale menjelaskan bahwa pemangkasan ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengimbangi investasi besar yang dilakukan perusahaan di bidang lain, terutama AI. Meta diproyeksikan menggelontorkan dana hingga US$125-145 miliar untuk capital expenditure (capex) sepanjang 2026, naik signifikan dari tahun sebelumnya. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk infrastruktur data center, GPU, chip khusus, dan pengembangan model AI seperti Llama.

Mark Zuckerberg sendiri disebutkan menekankan bahwa pengeluaran besar untuk AI menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan PHK. Meski Meta mencatatkan pendapatan rekor di kuartal pertama 2026, perusahaan memilih untuk lebih ramping agar bisa berinvestasi lebih agresif di teknologi masa depan.

Selain PHK, Meta juga memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke proyek-proyek AI baru, menandakan pergeseran strategis perusahaan menjadi “AI-first company”.

PHK ini terjadi secara bertahap mulai dari kantor di Singapura, kemudian menyebar ke Inggris, Amerika Serikat, dan wilayah lain sesuai zona waktu. Karyawan yang terdampak menerima pemberitahuan melalui email. Zuckerberg disebutkan menyampaikan terima kasih kepada karyawan yang terkena dampak, seraya menyoroti perubahan cepat di industri teknologi.

Langkah Meta ini bukan yang pertama. Sebelumnya, perusahaan pernah melakukan PHK besar-besaran pada 2022-2023. Namun, kali ini lebih difokuskan sebagai investasi strategis daripada sekadar pemangkasan biaya akibat kesulitan finansial.

Di kalangan karyawan, ada kekhawatiran terkait penggunaan AI untuk memantau produktivitas kerja, yang memicu petisi internal soal privasi. Sementara itu, analis pasar melihat ini sebagai tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan besar mengurangi tenaga manusia untuk berinvestasi di otomatisasi dan AI.

Dengan fokus kuat pada AI, Meta berharap dapat memperkuat posisinya di pasar media sosial dan mengembangkan produk-produk baru yang lebih canggih, termasuk fitur-fitur AI di Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Meski demikian, tantangan seperti biaya operasional yang membengkak dan persaingan ketat dengan OpenAI, Google, serta perusahaan AI lainnya tetap menjadi ujian bagi perusahaan.

Bagi pasar kerja global, termasuk di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital berbasis AI tidak hanya menciptakan peluang baru, tetapi juga mengubah lanskap ketenagakerjaan secara signifikan.