Jakarta-Seorang pria paruh baya di Cianjur, Jawa Barat meninggal setelah dianiaya tetangganya, hanya karena mencuri dua buah labu siam buat dimasak untuk berbuka puasa bersama ibunya.

Di waktu lain, seorang anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur memilih mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membeli buku dan pena.

Menurut Darmansyah, Pemerhati Media Sosial, bahwa dua peristiwa ini bukan sekadar tragedi. “Ini adalah cermin kenyataan yang masih kita hadapi sebagai bangsa. Masih terlalu banyak rakyat yang bahkan belum mampu memenuhi standar paling dasar dalam hidup: makan yang cukup, pakaian yang layak, sekolah bagi anaknya, dan berobat ketika sakit,” katanya.

Ironisnya, ia menambahkan, di saat sebagian rakyat berjuang hanya untuk makan dan sekolah, kita justru sering mendengar uang triliunan rupiah habis untuk hal-hal yang jauh dari kebutuhan rakyat, bahkan tak jarang lenyap di tangan para koruptor yang menjadikan jabatan sebagai tempat foya-foya.

“Negara seharusnya diukur bukan dari seberapa megah proyeknya, tetapi dari seberapa kecil penderitaan rakyat yang paling lemah,” katanya tegas.

Sebab kemiskinan, ia menambahkan, yang dibiarkan terlalu lama, pada akhirnya bukan hanya membunuh tubuh manusia, tetapi juga membunuh rasa kemanusiaan kita.