JAKARTA — Pengusaha Prajogo Pangestu kembali menjadi sorotan pasar modal setelah empat emiten yang terafiliasi dengannya menyiapkan dana hingga Rp3,5 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback.

Langkah ini dilakukan di tengah tekanan pasar saham yang membuat sejumlah saham Grup Barito mengalami penurunan tajam.

Empat emiten tersebut adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan pada Senin (19/10/2026), BRPT dan BREN masing-masing mengalokasikan dana maksimal Rp1 triliun. Sementara itu, CUAN menyiapkan Rp500 miliar dan TPIA menganggarkan Rp1 triliun untuk aksi serupa. Dengan demikian, total anggaran buyback keempat emiten mencapai Rp3,5 triliun.

BREN dan CUAN Siapkan Dana Buyback

BREN menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun yang bersumber dari kas internal perusahaan. Pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Sementara itu, CUAN mengalokasikan dana hingga Rp500 miliar untuk periode yang sama. Manajemen kedua perusahaan menyatakan bahwa dana pembelian kembali saham berasal dari kas internal dan diharapkan tidak mengganggu kegiatan operasional maupun kondisi keuangan perseroan.

Selain BREN dan CUAN, BRPT juga menyiapkan Rp1 triliun untuk buyback, sedangkan TPIA mengalokasikan Rp1 triliun dengan periode pelaksanaan hingga Januari 2027.

Aksi buyback lazim dilakukan perusahaan untuk memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan struktur permodalan, meningkatkan nilai bagi pemegang saham, serta mendukung stabilitas harga saham ketika pasar mengalami tekanan.

Namun, buyback tidak menjamin harga saham akan langsung naik. Pergerakan harga tetap dipengaruhi kondisi pasar, kinerja fundamental, sentimen investor, dan likuiditas perdagangan.

Bagi investor, langkah Prajogo Pangestu melalui emiten-emiten terafiliasinya menjadi perhatian penting karena menunjukkan kesiapan perusahaan mengalokasikan dana untuk membeli kembali sahamnya di tengah volatilitas pasar.

Meski demikian, besarnya anggaran buyback tidak dapat langsung diartikan sebagai keuntungan Rp1 triliun bagi pemilik perusahaan. Angka tersebut merupakan dana yang disiapkan untuk membeli saham, sedangkan keuntungan atau kerugian investasi bergantung pada harga transaksi dan perkembangan harga saham selanjutnya.

Dengan total anggaran Rp3,5 triliun, pelaksanaan buyback Grup Barito kini menjadi salah satu aksi korporasi yang patut dicermati investor dalam menilai arah pergerakan saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu.