Kediri-Selama bertahun-tahun, kota besar dianggap sebagai tempat terbaik untuk mengejar karier dan kehidupan yang lebih mapan. Ritme hidup yang cepat, peluang pekerjaan yang lebih luas, hingga gaya hidup urban membuat banyak orang memilih merantau dan menetap jauh dari kampung halaman.
Namun belakangan, muncul tren baru yang mulai dirasakan banyak masyarakat urban: keinginan untuk hidup lebih pelan. Konsep slow living—menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang, sadar, dan dekat dengan hal-hal sederhana—mulai menjadi pilihan banyak orang, terutama mereka yang mulai lelah dengan hiruk pikuk kota besar.
Fenomena ini juga mendorong semakin banyak perantau untuk kembali ke kampung halaman, karena tidak perlu lagi beradaptasi pada lingkungan dan budaya yang hidup di masyarakat sekitar. Salah satu tren daerah yang membawa moto pulang kampung permanen adalah Kediri dan kawasan Selingkar Wilis. Bukan hanya untuk pulang sesekali, tetapi benar-benar menetap dan memulai fase hidup baru.
Bagi Reza (41), mantan karyawan keuangan swasta, keputusan meninggalkan pekerjaannya di Jakarta bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal. Setelah hampir 15 tahun bekerja di ibu kota, ia mulai merasa hidupnya berjalan terlalu cepat.
“Awalnya cuma merasa capek biasa. Tapi lama-lama saya sadar hampir setiap hari hidup cuma diisi kerja, macet, pulang malam, lalu besok ulang lagi. Lama-lama saya berpikir, duh ini harus saya ulangi selamanya, ya,” ujarnya.
Pandemi beberapa tahun lalu menjadi titik yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan yang serba cepat tersebut. Ia mulai mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya ingin dijalankan dalam jangka panjang.
“Waktu itu saya pulang agak lama ke Kediri karena work from home sekalian menjaga orang tua. Ternyata rasanya beda. Bangun pagi lebih tenang, masih bisa sarapan sama orang tua dan saudara, sore ketemu teman lama. Hal-hal kecil yang dulu biasa saja ternyata sekarang terasa penting.”
Empat tahun lalu, Reza memutuskan kembali ke Kediri bersama istri dan anak-anaknya. Kini ia menjalankan usaha kecil di bidang kuliner dan sesekali bekerja secara remote untuk beberapa klien lamanya di Jakarta.
Pendapatan mungkin tidak selalu sebesar saat bekerja penuh di ibu kota, tetapi menurutnya kualitas hidup yang dirasakan jauh berbeda.“Sekarang saya punya waktu lebih banyak buat keluarga dan fokus menjaga kesehatan. Rasanya hidup lebih pelan, tapi justru lebih tenang,” katanya.
Fenomena serupa juga dirasakan Fauzan (58) asal Tulungagung yang kini mulai memasuki masa pensiunnya untuk kembali tinggal di kampung halaman. Setelah puluhan tahun bekerja di Surabaya dan Jakarta, ia mulai merasa kota besar bukan lagi tempat yang ingin ia jadikan rumah selamanya.
“Anak-anak sudah mulai besar, ritme hidup juga sudah berubah. Sekarang yang dicari bukan lagi suasana ramai, tapi tempat yang nyaman untuk hidup, dengan udara yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Menurut Fauzan, kawasan Selingkar Wilis memiliki suasana yang sulit ditemukan di kota besar. Biaya hidup yang lebih terjangkau, lingkungan yang masih terasa dekat antarwarga, serta akses menuju alam yang relatif mudah menjadi alasan banyak orang mulai mempertimbangkan untuk kembali.
Perubahan ini juga mulai didukung dengan berkembangnya infrastruktur di kawasan Kediri Raya, termasuk akses transportasi dan konektivitas yang semakin memudahkan mobilitas masyarakat. Kehadiran Dhoho International Airport, misalnya, membuat perjalanan menuju dan dari Kediri kini menjadi lebih praktis dibanding beberapa tahun lalu.
Poppy Finalia, Marketing Communication Manager PT Surya Dhoho Investama, menjelaskan bahwa Dhoho International Airport dibangun bukan hanya sebagai infrastruktur transportasi, tapi sebagai pintu pembuka pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Kediri Raya dan kawasan Selingkar Wilis.
Di sisi lain, perkembangan kawasan komersial, tempat tinggal, ruang publik, hingga kafe dan area kreatif juga perlahan mengubah wajah kota. Kediri mulai dilihat sebagai kota yang mampu menawarkan keseimbangan antara kehidupan yang lebih tenang dengan kebutuhan hidup modern.
Tidak sedikit pula generasi muda yang kini mulai melihat kemungkinan untuk membangun karier atau usaha dari kota asal mereka sendiri. Fleksibilitas kerja remote dan perkembangan teknologi membuat batas antara kota besar dan daerah mulai terasa semakin tipis.
Meski demikian, bagi banyak orang, alasan terbesar untuk kembali tetaplah hal-hal sederhana yang sulit digantikan: dekat dengan keluarga, memiliki waktu yang lebih manusiawi, dan hidup tanpa terus-menerus merasa terburu-buru.
Pada akhirnya, keputusan untuk pulang bukan selalu tentang menyerah pada kerasnya kota besar. Bagi sebagian orang, pulang justru menjadi cara untuk memilih hidup yang benar-benar ingin dijalani. Dan bagi banyak perantau hari ini, Kediri perlahan menjadi tempat untuk memulai pilihan itu.





