Nusantaranetwork.com, Jakarta – Istana Kepresidenan menilai kedekatan personal (chemistry) yang terjalin antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron merupakan aset diplomasi yang bernilai tinggi bagi posisi tawar (bargaining power) Indonesia di kancah global. Langkah merangkul kekuatan Eropa Barat ini mempertegas corak politik luar negeri Indonesia yang kian taktis di tengah eskalasi polarisasi geopolitik dunia.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyebut gaya komunikasi politik luar negeri Prabowo tergolong unik dan jarang dimiliki oleh pemimpin dunia lainnya saat ini. Kemampuan menjalin relasi personal secara paralel dengan para pemimpin negara adidaya yang secara politik saling berseberangan dinilai sebagai keunggulan komparatif.

“Bapak Presiden Prabowo adalah figur yang unik. Mungkin satu-satunya di dunia yang bisa memiliki hubungan yang sangat baik dengan kekuatan-kekuatan besar, adidaya,” kata Qodari saat memberikan keterangan pers di Jakarta, (31/05/2026).

Menyeimbangkan Kekuatan: Dari Trump hingga Xi Jinping

Menurut Istana, modal sosial berupa relasi personal yang kuat tersebut tidak hanya terbangun dengan Emmanuel Macron saat kunjungan kerja di Paris pada 26–29 Mei lalu. Rekam jejak diplomasi Prabowo menunjukkan konsistensi dalam merajut komunikasi bilateral yang seimbang di antara poros-poros kekuatan utama dunia:

  • Poros Washington: Prabowo mempertahankan hubungan yang cair dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memastikan kerja sama strategis di kawasan Indo-Pasifik tetap stabil tanpa mengorbankan kedaulatan ekonomi.
  • Poros Moskow & Beijing: Di saat yang sama, Prabowo diakui memiliki komunikasi yang sangat baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan geopolitik regional, terutama terkait isu Laut China Selatan dan dinamika ekonomi di Asia Tenggara.

Relasi cair antar-pemimpin negara ini dinilai melampaui sekat modal ekonomi dan politik konvensional. Istana optimistis kedekatan personal ini dapat menjadi instrumen mitigasi risiko atau jangkar pengaman yang mampu membawa stabilitas serta keuntungan strategis bagi posisi Indonesia di masa depan.

Menjawab Kritik Efisiensi Perjalanan Dinas

Perluasan jangkauan diplomasi ini sebelumnya sempat memantik diskusi publik. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, sempat melayangkan kritik di media sosial mengenai frekuensi perjalanan dinas luar negeri Presiden yang dianggap terlalu tinggi.

Merespons hal tersebut, Istana menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kritik publik. Namun, Qodari memastikan setiap lawatan internasional telah melalui kalkulasi yang ketat dan selalu bermuara pada kepentingan nasional, seperti realisasi transfer teknologi alutsista dengan Prancis serta penguatan pendidikan sektor Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

“Kita terima kasih atas masukan dan saran ya, apalagi memang kalau relevan. Tapi pasti asas manfaat menjadi suatu yang utama bagi Presiden dalam mengambil langkah-langkah, termasuk soal ke luar negeri. Manfaat itu dalam pengertian untuk bangsa dan negara,” pungkas Qodari.

Melalui gaya diplomasi personal yang merangkul semua kutub ini, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo dinilai sedang mencoba mendefinisikan ulang doktrin politik luar negeri “bebas-aktif” menjadi lebih pragmatis, aktif, dan bernilai ekonomi tinggi bagi pembangunan dalam negeri.