JAKARTA – Langkah mengejutkan diambil oleh Presiden Prabowo Subianto pada awal Juni 2026. Melalui Keputusan Presiden terbaru, Dadan Hindayana resmi dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Sebagai penggantinya, Presiden menunjuk Nanik Sudaryati Deyang (Nanik S. Deyang), sosok yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan hasil pemantauan dan evaluasi (monev) ketat yang dilakukan pemerintah terkait pelaksanaan program unggulan nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG). Isu seputar Standar Operasional Prosedur (SOP) hingga fluktuasi kualitas makanan di lapangan menjadi pematik utama di balik restrukturisasi besar-besaran ini. Kini, beban berat berada di pundak Nanik untuk membenahi tata kelola gizi nasional.
Nanik S. Deyang dikenal luas sebagai figur yang tegas, berprinsip, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Karakter kuat ini terbentuk dari latar belakang kehidupan dan pendidikannya yang beragam. Dilihat dari Pendidikan Dasar hingga Menengah:, Nanik Sudaryati Deyang lahir dan menghabiskan masa mudanya di Madiun, Jawa Timur. Ia mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah Madiun, SMP Negeri 2 Madiun, hingga SMA Negeri 1 Madiun. Kultur kota asalnya serta kedisiplinan sekolah membentuk mentalitasnya yang berani membela kebenaran dan berbasis pada keadilan sosial.
Latar Belakang Sains (S1 Biologi – Unsoed), meumbuhkan jiwa kritis Nanik didukung oleh cara berpikir yang terstruktur dan berbasis data. Ia merupakan lulusan S1 Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Keilmuan biologi ini membuatnya paham betul secara teoretis mengenai zat gizi, metabolisme, serta dampak pemenuhan nutrisi bagi kesehatan tubuh manusia.
Pendidikan Pascasarjana (S2 Kehutanan – UGM), Nanik juga memperdalam kapabilitas akademisnya dengan merampungkan studi S2 Kehutanan di Universitas Gadjah Mada (UGM), memberikan perspektif yang lebih luas mengenai tata lingkungan dan ketahanan sumber daya alam.
Sebelum terjun ke birokrasi, Nanik adalah seorang jurnalis senior yang malang melintang di berbagai media nasional, termasuk mengawali kariernya di Tabloid Bangkit (Kompas Gramedia). Pengalaman di lapangan sebagai wartawan mengasah kemampuan investigasi, komunikasi, dan sensitivitasnya terhadap kemiskinan serta keluhan rakyat kecil.
Sebelum didapuk menjadi orang nomor satu di BGN, Nanik S. Deyang adalah salah satu motor penggerak awal dalam tim transisi dan badan yang mengurusi kesejahteraan sosial Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan: Ia sempat dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil I di badan ini sebelum akhirnya digeser untuk memperkuat sektor gizi. Wakil Kepala BGN, pada September 2025, Nanik dilantik sebagai Wakil Kepala BGN. Di posisi ini, ia memegang peranan krusial dalam bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Dari sinilah Nanik banyak turun ke bawah, memetakan kendala distribusi makanan, menginvestigasi kebocoran anggaran, serta mendengarkan langsung keluhan dari masyarakat penerima manfaat program MBG.
Kinerjanya yang tak segan mengevaluasi hal-hal teknis di lapangan membuat Presiden Prabowo menilai Nanik sebagai sosok “eksekutor” yang tepat untuk menyelesaikan kendala manajerial yang gagal diselesaikan oleh kepemimpinan sebelumnya.
Naiknya Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN membawa angin segar sekaligus harapan baru bagi perbaikan program ketahanan gizi nasional. Ada beberapa peluang perbaikan strategis yang diprediksi akan diadopsi BGN ke depan antara lain Standarisasi SOP dan Pengawasan Ketat Kualitas Makanan.
Dengan latar belakangnya di bidang investigasi dan sains, Nanik berpeluang besar membangun mekanisme pengawasan pangan yang berlapis (quality control). Kasus makanan basi, kurang bergizi, atau keterlambatan pengantaran yang sempat muncul diprediksi akan ditekan melalui standarisasi SOP yang kaku dan transparan demi memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi terbaik.
Sebagai mantan jurnalis senior, Nanik memahami pentingnya keterbukaan informasi. BGN ke depan diyakini akan lebih komunikatif dalam menyerap kritik dari masyarakat, menteri terkait, maupun media massa. Setiap keluhan di lapangan dapat direspons dengan cepat (quick response) tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
Nanik menegaskan bahwa amanah besar ini tidak hanya bertujuan memenuhi gizi anak, tetapi juga harus mampu membangkitkan ekonomi rakyat. Di bawah kepemimpinannya, BGN berpeluang meningkatkan keterlibatan UMKM lokal, petani, peternak, dan nelayan sebagai penyedia bahan baku utama program Makan Bergizi Gratis, sehingga perputaran uang tetap berada di masyarakat bawah.
Pendekatan akademis biologi dan kehutanan yang dimilikinya memberikan peluang bagi BGN untuk menyusun menu makanan yang disesuaikan dengan potensi pangan lokal di masing-masing daerah. Hal ini akan meningkatkan efisiensi logistik karena bahan makanan tidak perlu dikirim dari jarak jauh.
Pergantian pimpinan dari Dadan Hindayana ke Nanik S. Deyang menandai babak baru pengetatan tata kelola di Badan Gizi Nasional. Berbekal latar belakang sains, ketajaman analisis jurnalisme, dan ketegasan prinsipnya, Nanik S. Deyang diharapkan mampu mengubah BGN menjadi lembaga yang lebih akuntabel, adaptif, dan berdampak langsung pada kualitas hidup generasi masa depan Indonesia. Tugasnya berat, namun peluang emas untuk melakukan lompatan perbaikan kini terbuka lebar.





