DOHA-Perang Iran-AS belum sepenuhnya berhenti. Perkembangan situasi geopolitik di Selat Hormuz (per akhir Juni 2026) terjadi eskalasi saling serang akhir pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk menahan diri sementara waktu (stand down) demi menjamin keselamatan jalur perdagangan energi global.
Kesepakatan untuk stand down ini dicapai setelah eskalasi militer yang intens. Ketegangan bermula ketika Iran menyerang kapal kargo di dekat Oman, yang kemudian direspons oleh serangan udara AS ke pos-pos pantai Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan tindakan ini untuk melindungi pelayaran komersial, sementara Iran membalasnya dengan meluncurkan rudal balistik ke fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Sebagai kelanjutan dari kesepakatan penundaan aksi militer ini, kedua belah pihak dijadwalkan mengadakan pertemuan teknis darurat di Doha, Qatar. Pertemuan ini awalnya direncanakan di Swiss dengan fokus utama program nuklir Iran. Namun, akibat krisis di jalur laut, lokasi dipindahkan ke Doha dan fokus dialihkan sepenuhnya ke masalah keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Pihak AS (melalui pernyataan Presiden Donald Trump) mengklaim bahwa Teheran yang secara resmi meminta pertemuan meja bundar ini, meskipun beberapa pejabat diplomasi Iran memberikan tanggapan yang lebih berhati-hati mengenai konfirmasi resmi detail teknisnya.
Guna meredakan situasi selama masa diplomasi 60 hari ke depan, beberapa langkah taktis mulai diterapkan antara lain mekanisme Hotline: AS dan Iran (melalui Korps Garda Revolusi Islam/IRGC) sepakat mengaktifkan jalur komunikasi langsung (hotline) guna menghindari salah komunikasi di laut. Iran mengumumkan aturan yang mewajibkan setiap kapal komersial internasional mengajukan izin atau notifikasi transit 48 jam sebelum memasuki Selat Hormuz.
Sebagai bagian dari nota kesepahaman (MoU) transisi ini, AS menyetujui pencairan dana Iran yang sempat dibekukan senilai USD 12 miliar, di mana USD 6 miliar di antaranya dilaporkan telah mulai diproses melalui Qatar, serta pelonggaran sanksi minyak sementara hingga Agustus 2026.
“Pihak Teheran telah mengajukan permohonan resmi kepada kami untuk mengadakan pertemuan meja bundar secepatnya di Doha. Ini adalah langkah maju yang sangat baik. Kami setuju untuk menahan diri sementara waktu (stand down) di laut, karena prioritas utama kami saat ini adalah memastikan kapal-kapal komersial internasional dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa ancaman.”
Seain itu, pengaktifan mekanisme hotline taktis antara armada AS dan unit laut regional adalah langkah krusial untuk mencegah miskalkulasi. “Meskipun kami melakukan penahanan tindakan ofensif demi memberi ruang bagi jalur diplomasi, aset-aset CENTCOM tetap dalam posisi siap siaga tinggi untuk mempertahankan diri dan melindungi kebebasan navigasi,” katanya.
Adapun terkait dengan otoritas Iran, Nasser Kanani, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pihaknya selalu menjadi penjaga utama keamanan di Teluk Persia dan Selat Hormuz. “Permohonan untuk dialog teknis ini diajukan demi menghentikan petualangan militer sepihak yang membahayakan perdagangan global. Jika pihak lawan menghormati kedaulatan wilayah kami dan berkomitmen pada kesepakatan transisi ini—termasuk pemulihan hak finansial kami—maka koridor aman akan tetap terjamin.”
Senada dengan hal tersebut, Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, IRGC telah menginstruksikan unit-unit di lapangan untuk menerapkan jeda operasi taktis sesuai dengan nota kesepahaman transisi. “Namun, kepatuhan ini bergantung sepenuhnya pada mundurnya kapal-kapal perang asing dari zona perimeter kami dan kepatuhan mutlak kapal komersial terhadap prosedur notifikasi transit 48 jam yang baru.”





