WASHINGTON — Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, resmi memulai era baru kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dengan mengambil langkah hati-hati namun penuh reformasi. Dalam rapat komite kebijakan (FOMC) pertamanya yang berakhir Rabu waktu setempat, Warsh berhasil menggalang dukungan bulat dari para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Langkah ini diambil di tengah lonjakan inflasi AS yang menyentuh angka 4,2%—level tertinggi dalam tiga tahun terakhir—akibat dipicu oleh meroketnya harga energi dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Kendati mempertahankan suku bunga, The Fed memberikan sinyal hawkish bahwa kenaikan suku bunga masih sangat mungkin terjadi sebelum akhir tahun 2026 demi menekan inflasi kembali ke target 2%.
Namun, kejutan terbesar dalam debut Warsh justru terletak pada pengumuman evaluasi besar-besaran terhadap tata kelola internal bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.
Dalam konferensi pers perdananya, Kevin Warsh langsung menggebrak dengan menyederhanakan pernyataan kebijakan Fed, memangkas panduan masa depan (forward guidance) yang biasanya diadopsi pasar, hingga menolak memasukkan proyeksi pribadinya ke dalam bagan perkiraan suku bunga (dot plot).
Ia mengumumkan pembentukan lima satuan tugas (satgas) baru untuk merombak total cara kerja The Fed, termasuk meninjau ulang komunikasi publik, neraca keuangan (balance sheet), kualitas data, produktivitas, dan lapangan kerja.
“Kelompok-kelompok ini akan memeriksa praktik saat ini, mempertimbangkan alternatif, dan pada akhirnya mengusulkan langkah-langkah selanjutnya untuk dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan,” ujar Ketua Fed Kevin Warsh dalam konferensi persnya di Washington.
Warsh menegaskan bahwa dirinya akan melibatkan pemikir-pemikir terbaik, baik dari dalam maupun luar profesi ekonomi, untuk melakukan tinjauan radikal ini.
Langkah awal Warsh ini memicu reaksi beragam dari lingkaran otoritas keuangan dan pengamat kebijakan ekonomi di AS. Sebagian melihat ini sebagai upaya pembersihan birokrasi dan pengembalian independensi lembaga, sementara yang lain mengkhawatirkan berkurangnya transparansi bagi pasar.
Dukungan politik yang kuat datang dari pihak Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyambut positif babak baru di bawah kepemimpinan Warsh yang dinilai membawa angin segar setelah periode ketegangan panjang antara pemerintah dan mantan Ketua Fed Jerome Powell.
“Persetujuan dan langkah awal ini merupakan sebuah lompatan yang disambut baik untuk akhirnya memulihkan akuntabilitas, kompetensi, dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan di Federal Reserve,” tegas Kush Desai dalam pernyataan resminya.
Sebaliknya, dari sudut pandang akademisi dan mantan praktisi kebijakan, perombakan komunikasi ini dinilai memiliki risiko tersendiri di tengah situasi ekonomi yang sedang bergejolak.
Stephen Cecchetti, ekonom dari Brandeis University sekaligus mantan pejabat di sistem Fed, mengingatkan bahwa tantangan inflasi saat ini sudah berjalan (in train) dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika reformasi kelembagaan.
“Kita tidak tahu apa yang ada dalam rencana kesepakatan (satgas) ini. Namun, sebagian besar inflasi yang kita prediksikan di sini sudah mulai bergerak. Kurangnya komunikasi taktis justru berisiko menaikkan beban tindakan Fed di mata pasar,” kata Cecchetti memberikan analisis kritisnya.
Dengan hasil rapat perdana ini, pasar saham Wall Street langsung bereaksi negatif dengan jatuhnya indeks Dow Jones hingga 500 poin tak lama setelah pengumuman. Para pelaku pasar kini harus membiasakan diri dengan gaya kepemimpinan Warsh yang lebih disiplin, minim “tuntunan tangan” (less handholding), dan sangat bergantung pada realisasi data ekonomi mentah ke depan.





